SIG adalah suatu sistem komputer untuk menangkap, mengatur, mengintegrasi, memanipulasi, menganalisis dan menyajikan data yang bereferensi ke bumi secara spasial dan geografis. Tidak seperti peta tercetak biasa yang hanya menyajikan data spasial seperti data jalan, lokasi ibukota dan batas wilayah. SIG mampu mengintegrasikan data atribut (misalnya data statistik penduduk) dengan data spasial. Sistem Informasi Geografis dapat digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan analisis dan pengambilan suatu keputusan. Salah satu bentuk aplikasinya adalah pemetaan tindak kejahatan atau pemetaan kriminal (Crime Mapping) untuk analisis kriminal (Crime Analist). Jenis kejahatan itu terbagi atas empat kategori yaitu tindak kejahatan konvensional (pembunuhan), tindak kejahatan transnasional (narkoba), tindak kejahatan berimplikasi kontijensi (kerawanan sosial), dan tindak kejahatan terhadap kekayaan negara (korupsi). Pemetaan kriminal sudah lama menjadi bagian terpenting dari analisis kriminal. Sebelum ditemukannya komputer, pemetaan tindak kejahatan sudah dilakukan dengan meletakkan pin pada sebuah peta besar. Satu kekurangan utama yang dihadapi oleh sistem ini adalah data yang lama hilang tertimpa oleh data yang baru. Oleh karena itu, pemetaan elektronis dengan menggunakan sistem komputer yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan mengorganisasi informasi geografis sangat diperlukan. Seiring dengan perkembangan teknologi, sistem ini ikut berkembang pula dan sekarang dikenal sebagai GIS crime mapping. Pemetaan tindak kejahatan menjadi sangat penting karena dengan adanya pemetaan secara elektronis, pola penyebaran suatu tindak kejahatan dapat diketahui.
Tujuan Penelitian
Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah merancang dan mengimplementasikan sistem informasi geografis tindak kejahatan multilevel berbasis web di kota Bogor yang dapat diakses melalui intranet atau internet. Dari sistem yang dibangun dapat diketahui pola
kepadatan tindak kejahatan di Kota Bogor; studi kasus kelurahan Tanah Baru, lokasi – lokasi yang rawan tindak kejahatan, hubungan antara waktu terjadinya tindak kejahatan, hubungan antara lokasi kantor polisi, lokasi terjadinya tindak kejahatan, hubungan antara permasalahan sosial-ekonomi dengan terjadinya tindak kejahatan. Sistem juga dapat memberikan saran sebagai masukan kepada aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian dalam pengambilan keputusan.
Pemetaan ini mempunyai tiga peran dalam analisis kriminal, yaitu:
• menyediakan fasilitas analisis visual dan analisis statistika,
• sebagai jembatan untuk menghubungkan data penunjang seperti data sensus, data jumlah penduduk dan data lokasi pos polisi,
• menampilkan output berupa data visual. Analisis Kriminal Analisis kriminal adalah suatu set proses yang diaplikasikan terhadap pola kriminal. Personel administrasi dan operasional dapat menggunakan hasil dari analisis kriminal ini untuk mencegah dan menekan aktifitas kriminal dan investigasi atas suatu tindakan kriminal
Tipe Analisis Kriminal
Ada enam tipe analisis kriminal, yaitu :
• Tactical Crime Analysis
• Strategic Crime Analysis
• Administrative/Academic Analysis
• Operations Analysis
• Intelligence Analysis
• Investigative Analysis
METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Metode yang digunakan untuk pengembangan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan ultilevel berbesis web ini adalah System Development Life Cycle (SDLC) yang sudah dimodifikasi. Fase-fase pada SLC terdiri fase perencanaan, analisis sistem, desain sistem, implementasi sistem dan penggunaan, tetapi kenyataannya untuk pengembangan sistem ini setelah fase tertentu bisa kembali melakukan proses pada fase sebelumnya, dan seterusnya.
Perencanaan Sistem
Tahap ini dilakukan pengumpulan data, baik data spasial maupun data atribut. Kemudian data dianalisis untuk merancang sebuah sistem informasi geografis. Pengumpulan data dilakukan melalui proses pengambilan data dari kantor Kepolisi sektor sekota Bogor dan wawancara dari beberapa anggota Kepolisian di Kepolisian Resta Bogor, yang menangani tugas administrasi tindak kejahatan di kota bogor. Pada konsep Multilevel pada sistem informasi geografis tindak kejahatan : data/informasi tindak kejahatan semakin lengkap (detail) sedangkan daerah tindak kejahatan semakin kecil, artinya tergantung dari orang yang menggunakan data/informasi tersebut, semakin tinggi level orang/pengguna informasi tersebut maka informasi dalam bentuk laporan yang diharapkan semakin sedikit misalnya : Kapolwil hanya membutuhkan excexutive summary tindak kejahatan di kota Bogor, sedangkan semakin rendah level orang/pengguna informasi yang diharapkan semakin lengkap (detail)
Pada penelitian ini data dari level yang terkecil akan menjadi masukan/gambaran dari data dari level yang tertinggi, artinya data level yang tinggi merupakan agregasi data level yang rendah. Analisis Sistem Pada tahap analisis dilakukan analisis kebutuhan sistem. Hasil dari analisis kebutuhan sistem ini diperlukan sebagai acuan dalam menyusun spesifikasi sistem yang akan dikembangkan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap analisis adalah memahami sistem yang sudah dan sedang berjalan, mengidentifikasi permasalahan pada sistem yang sedang berjalan dan menarik kesimpulan dari proses analisis yang telah dilakukan.
Data yang diperlukan untuk menunjang penelitian di peroleh dari berbagai kegiatan, antara lain : Studi Pustaka, Pengambilan data, Wawancara dan Observasi. Pengumpulan data dari Kantor Polisi Sektor sekota Bogor yang berupa data harian kriminal di Kota Bogor selama dua setengah tahun terakhir yaitu dari tahun 2004 sampai 2006. Data ini merupakan laporan dari seluruh Pos Polisi di Kota Bogor yang kasusnya sebagian besar terselesaikan. Data spasial lain yang juga dikumpulkan dari Kantor Polwil/Polresta Bogor adalah data lokasi kantor polisi. Data penunjang lain seperti data jumlah penduduk di seluruh kecamatan diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) Bogor.
Perancangan Sistem
Setelah dilakukan analisis, kebutuhan-kebutuhan yang didefinisikan dalam tahap analisis lalu diterjemahkan ke dalam bentuk model presentasi sistem aplikasi. Pada tahap ini dirancang arsitektur perangkat lunak, antar muka, input, proses dan output dalam menggunakan aplikasi. Tahap perancangan dilakukan guna memudahkan tahap berikutnya yakni tahap implementasi. Tahap perancangan sistem mencakup rancangan, basis data, rancangan sistem, dan rancangan antarmuka sesuai dengan tujuan dan kebutuhan dikembangkannya sistem.
Perancangan Sistem Informasi yang dikembangkan dibagi
menjadi dua, yaitu :
• Rancangan sistem secara umum, yang digunakan adalah perancangan secara top-down approach yang mendeskripsikan sistem secara umum dan bila diperlukan dapat diturunkan lagi sampai bentuk paling detil.
• Rancangan sistem secara detail, Spesifikasi sistem yang dibangun, secara lebih rinci meliputi perancangan database, perancangan struktur navigasi, perancangan sistem dengan flowchart dan perancangan halaman.
Implementasi Sistem
Tahap implementasi sistem merupakan pengaplikasian bentuk sistem yang akan dirancang ke dalam bahasa program tertentu untuk menghasilkan sistem aplikasi. Tahap implementasi (System Implementation) merupakan tahap meletakkan sistem supaya siap untuk dioperasikan.
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1. Material Collecting, yaitu pengumpulan bahan yang diperlukan dalam pengembangan SIG berbasis web.
2. Assembly, yaitu tahap pembuatan seluruh objek yang terlibat dalam pengembangan sistem ini.
3. Testing, yaitu tahap pengujian secara modular terhadap sistem ini.
Pada tahap ini, perangkat lunak yang digunakan adalah ArcView untuk mengolah peta, PHP untuk aplikasi web serta SQL server untuk penyediaan database. Implementasi sistem dilakukan pada PC yang disimulasikan menjadi server menggunakan IIS (Internet Information Server), serta server yang berfungsi sebagai web server sekaligus aplication server.
yang muncul, di antaranya :
1. Pencatatan data tindak kejahatan yang menggunakan sistem manual tidak terlalu efektif dan efisien untuk memperoleh data secara cepat.
2. Sulitnya membandingkan tingkat kerawanan antar daerah satu dengan lainnya dalam sistem manual.
3. Komunikasi yang kurang antara mitra dan perusahaan karena keterbatasan sistem yang lama yang tidak mampu menjangkau beberapa daerah.
Batasan Pengguna
Dalam pembangunan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis web (SIGTIKEM) ini target pengguna yang mengakses adalah pengguna yang kurang memahami akan pengaksesan perangkat lunak SIG, sehingga metode penempatan atau tata letak dari menu navigasi, tombol fungsi maupun pemilihan warna dan jenis huruf untuk isi dari web ini diatur sedemikian rupa agar dapat memudahkan pengguna.
ANALISIS
Analisis Kebutuhan Sistem Polres Kota Bogor merupakan aparat penegak hukum yang bisa memberikan keamanan dan perlindungan bagi masyarakat khususnya yang berada di Bogor. Pada saat ini, tindak kejahatan semakin meningkat khususnya yang berada pada daerah Bogor, sehingga dibutuhkan suatu sistem informasi yang dapat menangani data secara cepat, tepat dan akurat. Tindak kejahatan yang terjadi bisa dipetakan. Pemetaan jumlah tindak kejahatan dalam bentuk warna pada peta bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi SIG. Kota Bogor yang terdiri dari kecamatan dan kelurahan akan dijadikan data dalam SIGTIKEM ini. Diharapkan dengan menggunakan sistem ini, pihak kepolisian akan memperoleh peta informasi mengenai daerah-daerah yang rawan terjadinya tindak kejahatan. Bidang kajian tindak kejahatan yang diambil adalah tindak kejahatan konvensional di kota Bogor.
Tindak kejahatan konvensional itu sendiri adalah tindak kejahatan yang dilakukan dengan motivasi dan modus tindak kejahatan umum. Tindak kejahatan konvensional terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:
1. Kejahatan terhadap manusia seperti pembunuhan, penganiayaan dengan alat berat (anirat), penganiayaan tanpa alat berat (aniring), penculikan, pemerasan/ancaman, pencurian dengan kekerasan (curas), perkosaan, zinah, pencemaran nama baik/penghinaan, dll.
2. Kejahatan terhadap harta benda seperti penipuan dan penggelapan, pencurian dengan alat berat (curat), pencurian tanpa alat berat (curing), sengketa rumah/tanah, pemalsuan otentik, asuransi, pencurian kendaraan roda dua (curanmor R-2), pencurian kendaraan roda empat (curanmor R-4), dll.
3. Kejahatan terhadap masyarakat seperti perjudian, pelacuran, ketertiban, pengrusakan, dll.
Analisis Kebutuhan Informasi
Fitur-fitur yang ada pada Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis web (SIGTIKEM) adalah sebagai berikut :
1. Informasi kepolisian. Informasi ini berupa teks yang berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan profil kepolisian. Informasi ini berisi profil mengenai tindak kejahatan dan visi misi.
2. Informasi tindak kejahatan yang ditampilkan dapat berisikan data seluruh tindak kejahatan ataupun data tertentu hasil pencarian yang berada dalam basis data.
3. Informasi tindak kejahatan yang dipetakan dalam bentuk berupa peta kecamatan dan kelurahan. Pewarnaan pada kedua peta itu merepresentasikan banyaknya kejahatan yang terjadi berdasarkan pola waktu, tindak kejahatan umum, tindak kejahatan spesifik, bulan, dan tahun kejadian.
Masing-masing daerah yang terdapat dalam peta menyimpan informasi tindak kejahatan di daerah tersebut. Dasar pewarnaan penentuan tindak kejahatan diambil antara 0 s.d. 20 mempresentasikan jumlah tindak kejahatan yang terjadi. Dasar pewarnaan diperoleh setelah berdiskusi dengan pengguna untuk membedakan setiap daerahnya.
4. Informasi tindak kejahatan dapat disajikan dalam bentuk grafik. Grafik ditampilkan dalam bentuk grafik diagram batang yang merepresentasikan jumlah tindak kejahatan per kelurahan, tindak kejahatan umum dan spesifik, serta pola waktu berdasarkan waktu tertentu.
5. Penghitungan JTK dan PTKpada waktu tertentu.
6. Informasi lain seperti kegiatan lain kepolisian.
7. Matriks informasi yang dapat ditampilkan setiap levelnya dapat dilihat pada
PERANCANGAN SISTEM
Detail Perancangan Sistem Sistem informasi ini dibangun dengan tujuan untuk menyediakan informasi tindak kejahatan konvensional yang terjadi di kota Bogor. Informasi yang disajikan berupa teks yang berisikan data tindak kejahatan, bentuk grafis berupa peta yang terdiri dari peta kecamatan dan kelurahan sekota Bogor, dan diagram. Setiap kebutuhan informasi dalam sistem ini diperoleh melalui diskusi dengan pengguna.
Pengguna SIGTIKEM ini terdiri atas dua kategori pengguna yaitu pengguna biasa dan administrator.
Pengguna biasa yaitu seluruh lapisan masyarakat yang dapat mengakses data umum yang diberikan oleh SIGTIKEM, sedangkan administrator adalah anggota kepolisian Polresta Bogor pada bagian operasional yang berperan dalam mengelola dan memelihara data pada sistem. Proses yang terjadi pada penggunaan SIGTIKEM berupa pencarian data, pemasukan data, pengeditan data, dan penghapusan data. Pemasukan data terdiri dari data umum dan data admin. Pengeditan data dan penghapusan data dilakukan pada data yang sama. ata yang dimasukkan oleh pengguna umum disimpan ke dalam data umum, seperti data komentar dan buku tamu, sedangkan data admin adalah data yang hanya bisa diisi, diakses dan dimanipulasi oleh administrator sistem, seperti data agenda, buku tamu, komentar, laporan harian, dan user.
Selain menu navigasi SIGTIKEM di atas, fasilitas yang disediakan antara lain fasilitas pencarian yang terdapat pada menu administrator dan navigasi Menu Peta. Pencarian pada menu administrator terdiri atas pencarian data agenda dan laporan harian tindak kejahatan. Pada navigasi Submenu Peta, form pencarian data ditujukan untuk melihat informasi jumlah penyelesaian tindak kejahatan serta grafik tindak kejahatan berdasarkan bulan dan tahun serta untuk melihat pewarnaan pada peta yang diambil berdasarkan lima kategori yaitu pola waktu, tindak kejahatan, bulan, dan tahun, informasi jumlah penyelesaian tindak kejahatan serta grafik tindak kejahatan berdasarkan bulan dan tahun. Selain itu, fasilitas yang disediakan adalah fasilitas pengolahan data untuk administrator yang terdiri atas input, edit, dan hapus.
Menu input laporan harian terdiri dari laporan harian, kejahatan, pelapor, korban, dan pelaku. Identitas pelapor, korban, dan pelaku dimasukkan melalui form pelapor, korban, dan pelaku. Di sisi lain, form input laporan harian terdiri atas Nomor Polisi (Nopol), tanggal dan jam kejadian tindak kejahatan terjadi, tanggal dan jam laporan pelapor kepada pihak kepolisian, Tempat Kejadian Perkara (TKP), kelurahan, Modus Operandi (MO) yaitu cara yang dilakukan oleh pelaku pada saat melakukan tindak kejahatan, status laporan yang berarti status mengenai penyelidikan tindak kejahatan yang terjadi, dan uraian singkat kejadian. Pada form input tindak kejahatan terdiri dari Nopol dan tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku.
Penggunaan Sistem
Pengembangan sistem operasional SIGTIKEM dilakukan dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP. Pengkodean terhadap situs diperlukan agar sistem dapat menampilkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan pengguna. Sistem operasional ini akan digunakan oleh pengguna SIGTIKEM yaitu anggota kepolisian dan administrator. Fungsi-fungsi dan pengujian pada sistem dijelaskan pada tahap ini.
Banyaknya tindak kejahatan tiap kecamatan dan kelurahan diambil berdasarkan jumlah tindak kejahatan yang masuk ke dalam basis data. Warna pada masingmasing daerah disesuaikan dengan jumlah tindak kejahatan yang terjadi dan ditampilkan berdasarkan pola waktu kejadian, tindak kejahatan dalam bentuk umum dan spesifik, bulan, dan tahun yang dipilih pengguna. Pengelompokan pada peta tersebut memperlihatkan bahwa banyaknya tindak kejahatan kecamatan Bogor Utara pada bulan Januari 2006 berada pada kisaran sebelas sampai dengan dua puluh. Kedua kecamatan ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya yang berada dibawah 11 kejadian. Apabila dilihat secara keseluruhan berarti persentase banyak tindak kejahatan di kota Bogor yang ditampilkan dengan warna coklat tua adalah 16,67%, coklat 16,67%, dan coklat muda sebanyak 66,67%.
Setelah itu melihat kerawanan tindak kejahatan kelurahan Tanah Baru merupakan kelurahan yang tingkat tindak kejahatannya lebih banyak dibandingkan kelurahan lainnya di kecamatan Bogor Utara. Pewarnaan pada peta Kecamatan Bogor Utara – kelurahan Tanah Baru dapat dilihat pada
Apabila dilihat dari contoh data tindak kejahatan di atas, daerah yang memiliki tingkat tindak kejahatan lebih banyak memiliki jarak yang saling berdekatan. DaerahBtersebut antara kecamatan Bogor Timur dan Bogor Utara serta kelurahan Tanah Baru. Menurut data di Polres Bogor, ada faktor-faktor penyebab suatu daerah mengalami tindak kejahatan lebih tinggi dibandingkan lainnya, faktor-faktornya ialah :
• Adanya kemudahan berupa informasi dari orang ’dalam’, sewaktu melakukan tindak kejahatan di daerah tersebut.
• Daerah tersebut memiliki keuntungan yang lebih bagi pelaku.
• Jalan pelarian bagi pelaku lebih mudah.
Dengan adanya pengelompokkan jumlah tindak kejahatan yang diperlihatkan dengan pewarnaan pada peta, kepolisian Polresta Bogor dapat lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibanding daerah lainnya.
Berdasarkan grafik per bulannya, tindak kejahatan sering terjadi berada di bulan September. Hal ini disebabkan karena awal bulan puasa terjadi pada bulan tersebut. Grafik yang ditampilkan diurutkan dari yang tertinggi sampai dengan terendah kecuali grafik tindak kejahatan per bulan. Khusus grafik tindak kejahatan yang spesifik, setiap tindak kejahatan diurutkan dan dikelompokkan sesuai dengan tindak kejahatan umum masing-masing. Warna batang pada tindak kejahatan terhadap manusia berwarna hijau, tindak kejahatan terhadap harta benda berwarna jingga, dan tindak kejahatan terhadap masyarakat berwarna merah. gambar tampilan informasi JTK dan PTK kelurahan Tanah Baru, kecamatan Bogor Utara pada tahun 2006. Berdasarkan informasi yang diperoleh terlihat bahwa total jumlah tindak pidana pada tahun 2006 yang terjadi sebanyak sembilan puluh dua dan hanya dua kasus yang tidak terselesaikan. Hal ini berarti persentase tingkat keberhasilan penyelesaian kasus tindak kejahatan konvensional pada tahun 2006 di kelurahan Tanah Baru, kecamatan Bogor Utara mencapai 83,33%. Melalui informasi ini, tingkat keberhasilan penyelesaian kasus tindak kejahatan yang terjadi dapat diketahui oleh pihak kepolisian.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
• SIGTIKEM merupakan aplikasi web-GIS yang menampilkan informasi tindak kejahatan multilevel yang terjadi di kota Bogor yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai acuan untuk melihat tindak kejahatan pada waktu tertentu dengan kriteria tertentu baik melalui intranet maupun internet.
• Informasi yang ditampilkan berupa data teks, peta, dan grafik.
• Tingkat kerawanan suatu daerah digambarkan dengan warna yang berbeda. Setiap jenis tindak kejahatan baik di level kota, kecamatan maupun level kelurahan yang sering terjadi akan lebih terlihat dengan berbeda warna pada peta sesuai dengan tingkat kerawanannya, sehingga harapnya adalah adanya tindak lanjut dari pihak penegak hukum terhadap daerah yang sering terjadi tindak kejahatan.
• Selain data yang lebih rinci sebagai tambahan informasi ditampilkan pula data hasil perhitungan jumlah tindak kejahatan beserta penyelesaiannya. Oleh karena hal tersebut SIGTIKEM diharapkan dapat membantu pihak penegak hukum dan atau masyarakat pada umumnya untuk memperoleh data tindak kejahatan secara cepat, tepat dan akurat.
• Data dapat dimasukkan dan diolah secara langsung oleh sistem.
• Pihak kepolisian dapat membandingkan jumlah tindak kejahatan antar daerah (kelurahan, kecamatan, sampai tingkat RW), tipe tindak kejahatan, pola waktu dan peoride waktu (bulan dan tahun).
• Menampilkan laporan harian dalam bentuk pdf.
• Sifat peta masih statis.
Saran
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, oleh karena itu, saran-saran yang dapat diberikan untuk penelitian lebih lanjut, antara lain:
• SIGTIKEM bisa dikembangkan dengan data yang lebih detail dan memperluas kajian jenis kejahatan, seperti penambahan jenis tindak kejahatan transnasional, tindak kejahatan kontijensi, dan tindak kejahatan terhadap kekayaan negara.
• Selain itu dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk data ke level yang lebih rendah lagi yaitu level Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT), sehingga cakupan datanya lebih luas dan informasi yang didapatkan lengkap dan detail.
• SIGTIKEM ini dibangun dengan menggunakan data kelurahan Tanah Baru kota Bogor, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan data tindak kejahatan di daerah lainnya atau secara nasional.
• Untuk lebih memberikan informasi yang lebih kepada user, penambahan jenis grafik keluaran, dengan demikian akan menambah informasi dan sangat berguna bagi penegak hukum.12
Aronoff, Stan. 1995. Geographic Information System: A Management Perspective, WDL Publications,
Canada.
Asmoro P. 2003. Sistem Informasi Geografis Sebagai Sarana Manajemen Serta Wahana Koordinasi dan Integrasi. Dewan Telematika Indonesia. Jakarta.
Barus, Baba & U.S. Wiradisastra. 2000. Sistem Informasi Geografi. Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Barus, Baba. 2003. Development of A Framework for Multi-Scale Agricultural Sustainability usng GIS: A Case Study in West Java Indonesia. Department of Geography Faculty of the Enviroment University of Portsmouth, Portsmouth.
Barus, Baba. 2005. Kamus SIG (Sistem Informasi Geografis) dengan 128 diagram.SOTIS (Studio Teknologi Informasi Spasial) Bagian Penginderaan Jauh dan Kartografis, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, FAPERTA IPB, Bogor.
Boba R. 2001. Introduction to Crime Mapping. www.sagepub.com/ BobaFinalPDF-46245.pdf BPS. 2006. Kota Bogor dalam Angka 2006. Biro Pusat Statistik Kota Bogor, 2006
Chen H, Chung W, Xu JJ, Wang G, Qin Y, Chau M. 2004. Crime Data Mining: A General Framework and Some Examples. IEEEC Society. www.computer.org/crimemap/ieec-doc.pdf
Connolly TM, Begg CE. 2002. Database Systems: A Practical Approach to Design, implementation, and Management – Third Edition. USA : Addison Wesley.
ER Mapper. 1998. ER Mapper 6.0 Tutorial, Earth Resource Mapping Pty Ltd.
Escobar F, Hunter G, Bishop I, Zerger A. 2002.
Introduction To GIS. ESRI. 1999. MapObjects Online Reference. ESRI, Inc. [GIS Lounge] Crime Mapping: GIS Goes Mainstream. www.ounge.com/features/aa10100.shtml [24/10/05].
Goodchild M. 2001. Spatial Analysis and GIS. ESRI User Conference. National Center for Geographic Information and Analysis University of California. www.geog.ucsb.edu/Goodchild_GIS.htm [28/04/06]
Harries K. 2003. Mapping Crime: Principle and Analysis. www.ncjrs.org/html/niji/mapping.pdf
Johnson CP. 2000. Crime Mapping and Analysis Using GIS. Conference on Geomaticsin Electronic Governance. Pune. www.cdac.in/html/pdf/ geom4.pdf
Kraak M-J. 2002. Cartography : visualization of geospatial data. 2thEd. Pearson Education Limited, Edinburgh Gate, Harlow England
Longley PA, Goodchild M, Maguire D, Rhind D. 2001. Geographic Information System and Science. Wiley.
McLeod, R. 1995. Management information Systems: A Study of Computer-Base Information System. 6th Ed. Prentice-Hall, Inc, New Jersey.
Tujuan Penelitian
Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah merancang dan mengimplementasikan sistem informasi geografis tindak kejahatan multilevel berbasis web di kota Bogor yang dapat diakses melalui intranet atau internet. Dari sistem yang dibangun dapat diketahui pola
kepadatan tindak kejahatan di Kota Bogor; studi kasus kelurahan Tanah Baru, lokasi – lokasi yang rawan tindak kejahatan, hubungan antara waktu terjadinya tindak kejahatan, hubungan antara lokasi kantor polisi, lokasi terjadinya tindak kejahatan, hubungan antara permasalahan sosial-ekonomi dengan terjadinya tindak kejahatan. Sistem juga dapat memberikan saran sebagai masukan kepada aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian dalam pengambilan keputusan.
Pemetaan ini mempunyai tiga peran dalam analisis kriminal, yaitu:
• menyediakan fasilitas analisis visual dan analisis statistika,
• sebagai jembatan untuk menghubungkan data penunjang seperti data sensus, data jumlah penduduk dan data lokasi pos polisi,
• menampilkan output berupa data visual. Analisis Kriminal Analisis kriminal adalah suatu set proses yang diaplikasikan terhadap pola kriminal. Personel administrasi dan operasional dapat menggunakan hasil dari analisis kriminal ini untuk mencegah dan menekan aktifitas kriminal dan investigasi atas suatu tindakan kriminal
Tipe Analisis Kriminal
Ada enam tipe analisis kriminal, yaitu :
• Tactical Crime Analysis
• Strategic Crime Analysis
• Administrative/Academic Analysis
• Operations Analysis
• Intelligence Analysis
• Investigative Analysis
METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Metode yang digunakan untuk pengembangan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan ultilevel berbesis web ini adalah System Development Life Cycle (SDLC) yang sudah dimodifikasi. Fase-fase pada SLC terdiri fase perencanaan, analisis sistem, desain sistem, implementasi sistem dan penggunaan, tetapi kenyataannya untuk pengembangan sistem ini setelah fase tertentu bisa kembali melakukan proses pada fase sebelumnya, dan seterusnya.
Perencanaan Sistem
Tahap ini dilakukan pengumpulan data, baik data spasial maupun data atribut. Kemudian data dianalisis untuk merancang sebuah sistem informasi geografis. Pengumpulan data dilakukan melalui proses pengambilan data dari kantor Kepolisi sektor sekota Bogor dan wawancara dari beberapa anggota Kepolisian di Kepolisian Resta Bogor, yang menangani tugas administrasi tindak kejahatan di kota bogor. Pada konsep Multilevel pada sistem informasi geografis tindak kejahatan : data/informasi tindak kejahatan semakin lengkap (detail) sedangkan daerah tindak kejahatan semakin kecil, artinya tergantung dari orang yang menggunakan data/informasi tersebut, semakin tinggi level orang/pengguna informasi tersebut maka informasi dalam bentuk laporan yang diharapkan semakin sedikit misalnya : Kapolwil hanya membutuhkan excexutive summary tindak kejahatan di kota Bogor, sedangkan semakin rendah level orang/pengguna informasi yang diharapkan semakin lengkap (detail)
Pada penelitian ini data dari level yang terkecil akan menjadi masukan/gambaran dari data dari level yang tertinggi, artinya data level yang tinggi merupakan agregasi data level yang rendah. Analisis Sistem Pada tahap analisis dilakukan analisis kebutuhan sistem. Hasil dari analisis kebutuhan sistem ini diperlukan sebagai acuan dalam menyusun spesifikasi sistem yang akan dikembangkan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap analisis adalah memahami sistem yang sudah dan sedang berjalan, mengidentifikasi permasalahan pada sistem yang sedang berjalan dan menarik kesimpulan dari proses analisis yang telah dilakukan.
Data yang diperlukan untuk menunjang penelitian di peroleh dari berbagai kegiatan, antara lain : Studi Pustaka, Pengambilan data, Wawancara dan Observasi. Pengumpulan data dari Kantor Polisi Sektor sekota Bogor yang berupa data harian kriminal di Kota Bogor selama dua setengah tahun terakhir yaitu dari tahun 2004 sampai 2006. Data ini merupakan laporan dari seluruh Pos Polisi di Kota Bogor yang kasusnya sebagian besar terselesaikan. Data spasial lain yang juga dikumpulkan dari Kantor Polwil/Polresta Bogor adalah data lokasi kantor polisi. Data penunjang lain seperti data jumlah penduduk di seluruh kecamatan diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) Bogor.
Perancangan Sistem
Setelah dilakukan analisis, kebutuhan-kebutuhan yang didefinisikan dalam tahap analisis lalu diterjemahkan ke dalam bentuk model presentasi sistem aplikasi. Pada tahap ini dirancang arsitektur perangkat lunak, antar muka, input, proses dan output dalam menggunakan aplikasi. Tahap perancangan dilakukan guna memudahkan tahap berikutnya yakni tahap implementasi. Tahap perancangan sistem mencakup rancangan, basis data, rancangan sistem, dan rancangan antarmuka sesuai dengan tujuan dan kebutuhan dikembangkannya sistem.
Perancangan Sistem Informasi yang dikembangkan dibagi
menjadi dua, yaitu :
• Rancangan sistem secara umum, yang digunakan adalah perancangan secara top-down approach yang mendeskripsikan sistem secara umum dan bila diperlukan dapat diturunkan lagi sampai bentuk paling detil.
• Rancangan sistem secara detail, Spesifikasi sistem yang dibangun, secara lebih rinci meliputi perancangan database, perancangan struktur navigasi, perancangan sistem dengan flowchart dan perancangan halaman.
Implementasi Sistem
Tahap implementasi sistem merupakan pengaplikasian bentuk sistem yang akan dirancang ke dalam bahasa program tertentu untuk menghasilkan sistem aplikasi. Tahap implementasi (System Implementation) merupakan tahap meletakkan sistem supaya siap untuk dioperasikan.
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1. Material Collecting, yaitu pengumpulan bahan yang diperlukan dalam pengembangan SIG berbasis web.
2. Assembly, yaitu tahap pembuatan seluruh objek yang terlibat dalam pengembangan sistem ini.
3. Testing, yaitu tahap pengujian secara modular terhadap sistem ini.
Pada tahap ini, perangkat lunak yang digunakan adalah ArcView untuk mengolah peta, PHP untuk aplikasi web serta SQL server untuk penyediaan database. Implementasi sistem dilakukan pada PC yang disimulasikan menjadi server menggunakan IIS (Internet Information Server), serta server yang berfungsi sebagai web server sekaligus aplication server.
HASIL DAN PEMBAHASAN PERENCANAAN SISTEM
Identifikasi Masalah Penggunaan aplikasi dengan menggunakan teknologi informasi berbasis komputer yang tepat guna akan memudahkan pengguna untuk menyimpan dan mengolah data serta memperoleh informasi secara cepat dan aktual. Banyaknya tindak kejahatan yang terjadi di berbagai tempat dan waktu kejadian yang berbeda-beda menyebabkan kesulitan tersendiri dalam menentukan daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Berdasarkan keterangan di atas, beberapa masalahyang muncul, di antaranya :
1. Pencatatan data tindak kejahatan yang menggunakan sistem manual tidak terlalu efektif dan efisien untuk memperoleh data secara cepat.
2. Sulitnya membandingkan tingkat kerawanan antar daerah satu dengan lainnya dalam sistem manual.
3. Komunikasi yang kurang antara mitra dan perusahaan karena keterbatasan sistem yang lama yang tidak mampu menjangkau beberapa daerah.
Batasan Pengguna
Dalam pembangunan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis web (SIGTIKEM) ini target pengguna yang mengakses adalah pengguna yang kurang memahami akan pengaksesan perangkat lunak SIG, sehingga metode penempatan atau tata letak dari menu navigasi, tombol fungsi maupun pemilihan warna dan jenis huruf untuk isi dari web ini diatur sedemikian rupa agar dapat memudahkan pengguna.
ANALISIS
Analisis Kebutuhan Sistem Polres Kota Bogor merupakan aparat penegak hukum yang bisa memberikan keamanan dan perlindungan bagi masyarakat khususnya yang berada di Bogor. Pada saat ini, tindak kejahatan semakin meningkat khususnya yang berada pada daerah Bogor, sehingga dibutuhkan suatu sistem informasi yang dapat menangani data secara cepat, tepat dan akurat. Tindak kejahatan yang terjadi bisa dipetakan. Pemetaan jumlah tindak kejahatan dalam bentuk warna pada peta bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi SIG. Kota Bogor yang terdiri dari kecamatan dan kelurahan akan dijadikan data dalam SIGTIKEM ini. Diharapkan dengan menggunakan sistem ini, pihak kepolisian akan memperoleh peta informasi mengenai daerah-daerah yang rawan terjadinya tindak kejahatan. Bidang kajian tindak kejahatan yang diambil adalah tindak kejahatan konvensional di kota Bogor.
Tindak kejahatan konvensional itu sendiri adalah tindak kejahatan yang dilakukan dengan motivasi dan modus tindak kejahatan umum. Tindak kejahatan konvensional terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:
1. Kejahatan terhadap manusia seperti pembunuhan, penganiayaan dengan alat berat (anirat), penganiayaan tanpa alat berat (aniring), penculikan, pemerasan/ancaman, pencurian dengan kekerasan (curas), perkosaan, zinah, pencemaran nama baik/penghinaan, dll.
2. Kejahatan terhadap harta benda seperti penipuan dan penggelapan, pencurian dengan alat berat (curat), pencurian tanpa alat berat (curing), sengketa rumah/tanah, pemalsuan otentik, asuransi, pencurian kendaraan roda dua (curanmor R-2), pencurian kendaraan roda empat (curanmor R-4), dll.
3. Kejahatan terhadap masyarakat seperti perjudian, pelacuran, ketertiban, pengrusakan, dll.
Analisis Kebutuhan Informasi
Fitur-fitur yang ada pada Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis web (SIGTIKEM) adalah sebagai berikut :
1. Informasi kepolisian. Informasi ini berupa teks yang berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan profil kepolisian. Informasi ini berisi profil mengenai tindak kejahatan dan visi misi.
2. Informasi tindak kejahatan yang ditampilkan dapat berisikan data seluruh tindak kejahatan ataupun data tertentu hasil pencarian yang berada dalam basis data.
3. Informasi tindak kejahatan yang dipetakan dalam bentuk berupa peta kecamatan dan kelurahan. Pewarnaan pada kedua peta itu merepresentasikan banyaknya kejahatan yang terjadi berdasarkan pola waktu, tindak kejahatan umum, tindak kejahatan spesifik, bulan, dan tahun kejadian.
Masing-masing daerah yang terdapat dalam peta menyimpan informasi tindak kejahatan di daerah tersebut. Dasar pewarnaan penentuan tindak kejahatan diambil antara 0 s.d. 20 mempresentasikan jumlah tindak kejahatan yang terjadi. Dasar pewarnaan diperoleh setelah berdiskusi dengan pengguna untuk membedakan setiap daerahnya.
4. Informasi tindak kejahatan dapat disajikan dalam bentuk grafik. Grafik ditampilkan dalam bentuk grafik diagram batang yang merepresentasikan jumlah tindak kejahatan per kelurahan, tindak kejahatan umum dan spesifik, serta pola waktu berdasarkan waktu tertentu.
5. Penghitungan JTK dan PTKpada waktu tertentu.
6. Informasi lain seperti kegiatan lain kepolisian.
7. Matriks informasi yang dapat ditampilkan setiap levelnya dapat dilihat pada
PERANCANGAN SISTEM
Detail Perancangan Sistem Sistem informasi ini dibangun dengan tujuan untuk menyediakan informasi tindak kejahatan konvensional yang terjadi di kota Bogor. Informasi yang disajikan berupa teks yang berisikan data tindak kejahatan, bentuk grafis berupa peta yang terdiri dari peta kecamatan dan kelurahan sekota Bogor, dan diagram. Setiap kebutuhan informasi dalam sistem ini diperoleh melalui diskusi dengan pengguna.
Pengguna SIGTIKEM ini terdiri atas dua kategori pengguna yaitu pengguna biasa dan administrator.
Pengguna biasa yaitu seluruh lapisan masyarakat yang dapat mengakses data umum yang diberikan oleh SIGTIKEM, sedangkan administrator adalah anggota kepolisian Polresta Bogor pada bagian operasional yang berperan dalam mengelola dan memelihara data pada sistem. Proses yang terjadi pada penggunaan SIGTIKEM berupa pencarian data, pemasukan data, pengeditan data, dan penghapusan data. Pemasukan data terdiri dari data umum dan data admin. Pengeditan data dan penghapusan data dilakukan pada data yang sama. ata yang dimasukkan oleh pengguna umum disimpan ke dalam data umum, seperti data komentar dan buku tamu, sedangkan data admin adalah data yang hanya bisa diisi, diakses dan dimanipulasi oleh administrator sistem, seperti data agenda, buku tamu, komentar, laporan harian, dan user.
Selain menu navigasi SIGTIKEM di atas, fasilitas yang disediakan antara lain fasilitas pencarian yang terdapat pada menu administrator dan navigasi Menu Peta. Pencarian pada menu administrator terdiri atas pencarian data agenda dan laporan harian tindak kejahatan. Pada navigasi Submenu Peta, form pencarian data ditujukan untuk melihat informasi jumlah penyelesaian tindak kejahatan serta grafik tindak kejahatan berdasarkan bulan dan tahun serta untuk melihat pewarnaan pada peta yang diambil berdasarkan lima kategori yaitu pola waktu, tindak kejahatan, bulan, dan tahun, informasi jumlah penyelesaian tindak kejahatan serta grafik tindak kejahatan berdasarkan bulan dan tahun. Selain itu, fasilitas yang disediakan adalah fasilitas pengolahan data untuk administrator yang terdiri atas input, edit, dan hapus.
Menu input laporan harian terdiri dari laporan harian, kejahatan, pelapor, korban, dan pelaku. Identitas pelapor, korban, dan pelaku dimasukkan melalui form pelapor, korban, dan pelaku. Di sisi lain, form input laporan harian terdiri atas Nomor Polisi (Nopol), tanggal dan jam kejadian tindak kejahatan terjadi, tanggal dan jam laporan pelapor kepada pihak kepolisian, Tempat Kejadian Perkara (TKP), kelurahan, Modus Operandi (MO) yaitu cara yang dilakukan oleh pelaku pada saat melakukan tindak kejahatan, status laporan yang berarti status mengenai penyelidikan tindak kejahatan yang terjadi, dan uraian singkat kejadian. Pada form input tindak kejahatan terdiri dari Nopol dan tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku.
Penggunaan Sistem
Pengembangan sistem operasional SIGTIKEM dilakukan dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP. Pengkodean terhadap situs diperlukan agar sistem dapat menampilkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan pengguna. Sistem operasional ini akan digunakan oleh pengguna SIGTIKEM yaitu anggota kepolisian dan administrator. Fungsi-fungsi dan pengujian pada sistem dijelaskan pada tahap ini.
Banyaknya tindak kejahatan tiap kecamatan dan kelurahan diambil berdasarkan jumlah tindak kejahatan yang masuk ke dalam basis data. Warna pada masingmasing daerah disesuaikan dengan jumlah tindak kejahatan yang terjadi dan ditampilkan berdasarkan pola waktu kejadian, tindak kejahatan dalam bentuk umum dan spesifik, bulan, dan tahun yang dipilih pengguna. Pengelompokan pada peta tersebut memperlihatkan bahwa banyaknya tindak kejahatan kecamatan Bogor Utara pada bulan Januari 2006 berada pada kisaran sebelas sampai dengan dua puluh. Kedua kecamatan ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya yang berada dibawah 11 kejadian. Apabila dilihat secara keseluruhan berarti persentase banyak tindak kejahatan di kota Bogor yang ditampilkan dengan warna coklat tua adalah 16,67%, coklat 16,67%, dan coklat muda sebanyak 66,67%.
Setelah itu melihat kerawanan tindak kejahatan kelurahan Tanah Baru merupakan kelurahan yang tingkat tindak kejahatannya lebih banyak dibandingkan kelurahan lainnya di kecamatan Bogor Utara. Pewarnaan pada peta Kecamatan Bogor Utara – kelurahan Tanah Baru dapat dilihat pada
Apabila dilihat dari contoh data tindak kejahatan di atas, daerah yang memiliki tingkat tindak kejahatan lebih banyak memiliki jarak yang saling berdekatan. DaerahBtersebut antara kecamatan Bogor Timur dan Bogor Utara serta kelurahan Tanah Baru. Menurut data di Polres Bogor, ada faktor-faktor penyebab suatu daerah mengalami tindak kejahatan lebih tinggi dibandingkan lainnya, faktor-faktornya ialah :
• Adanya kemudahan berupa informasi dari orang ’dalam’, sewaktu melakukan tindak kejahatan di daerah tersebut.
• Daerah tersebut memiliki keuntungan yang lebih bagi pelaku.
• Jalan pelarian bagi pelaku lebih mudah.
Dengan adanya pengelompokkan jumlah tindak kejahatan yang diperlihatkan dengan pewarnaan pada peta, kepolisian Polresta Bogor dapat lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibanding daerah lainnya.
Berdasarkan grafik per bulannya, tindak kejahatan sering terjadi berada di bulan September. Hal ini disebabkan karena awal bulan puasa terjadi pada bulan tersebut. Grafik yang ditampilkan diurutkan dari yang tertinggi sampai dengan terendah kecuali grafik tindak kejahatan per bulan. Khusus grafik tindak kejahatan yang spesifik, setiap tindak kejahatan diurutkan dan dikelompokkan sesuai dengan tindak kejahatan umum masing-masing. Warna batang pada tindak kejahatan terhadap manusia berwarna hijau, tindak kejahatan terhadap harta benda berwarna jingga, dan tindak kejahatan terhadap masyarakat berwarna merah. gambar tampilan informasi JTK dan PTK kelurahan Tanah Baru, kecamatan Bogor Utara pada tahun 2006. Berdasarkan informasi yang diperoleh terlihat bahwa total jumlah tindak pidana pada tahun 2006 yang terjadi sebanyak sembilan puluh dua dan hanya dua kasus yang tidak terselesaikan. Hal ini berarti persentase tingkat keberhasilan penyelesaian kasus tindak kejahatan konvensional pada tahun 2006 di kelurahan Tanah Baru, kecamatan Bogor Utara mencapai 83,33%. Melalui informasi ini, tingkat keberhasilan penyelesaian kasus tindak kejahatan yang terjadi dapat diketahui oleh pihak kepolisian.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
• SIGTIKEM merupakan aplikasi web-GIS yang menampilkan informasi tindak kejahatan multilevel yang terjadi di kota Bogor yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai acuan untuk melihat tindak kejahatan pada waktu tertentu dengan kriteria tertentu baik melalui intranet maupun internet.
• Informasi yang ditampilkan berupa data teks, peta, dan grafik.
• Tingkat kerawanan suatu daerah digambarkan dengan warna yang berbeda. Setiap jenis tindak kejahatan baik di level kota, kecamatan maupun level kelurahan yang sering terjadi akan lebih terlihat dengan berbeda warna pada peta sesuai dengan tingkat kerawanannya, sehingga harapnya adalah adanya tindak lanjut dari pihak penegak hukum terhadap daerah yang sering terjadi tindak kejahatan.
• Selain data yang lebih rinci sebagai tambahan informasi ditampilkan pula data hasil perhitungan jumlah tindak kejahatan beserta penyelesaiannya. Oleh karena hal tersebut SIGTIKEM diharapkan dapat membantu pihak penegak hukum dan atau masyarakat pada umumnya untuk memperoleh data tindak kejahatan secara cepat, tepat dan akurat.
• Data dapat dimasukkan dan diolah secara langsung oleh sistem.
• Pihak kepolisian dapat membandingkan jumlah tindak kejahatan antar daerah (kelurahan, kecamatan, sampai tingkat RW), tipe tindak kejahatan, pola waktu dan peoride waktu (bulan dan tahun).
• Menampilkan laporan harian dalam bentuk pdf.
• Sifat peta masih statis.
Saran
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, oleh karena itu, saran-saran yang dapat diberikan untuk penelitian lebih lanjut, antara lain:
• SIGTIKEM bisa dikembangkan dengan data yang lebih detail dan memperluas kajian jenis kejahatan, seperti penambahan jenis tindak kejahatan transnasional, tindak kejahatan kontijensi, dan tindak kejahatan terhadap kekayaan negara.
• Selain itu dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk data ke level yang lebih rendah lagi yaitu level Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT), sehingga cakupan datanya lebih luas dan informasi yang didapatkan lengkap dan detail.
• SIGTIKEM ini dibangun dengan menggunakan data kelurahan Tanah Baru kota Bogor, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan data tindak kejahatan di daerah lainnya atau secara nasional.
• Untuk lebih memberikan informasi yang lebih kepada user, penambahan jenis grafik keluaran, dengan demikian akan menambah informasi dan sangat berguna bagi penegak hukum.12
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi M. 2003. Crime Mapping and Spatial Analysis. www.itc.nl/library/Papers2003/msc/gfm/ahmadi.pdfAronoff, Stan. 1995. Geographic Information System: A Management Perspective, WDL Publications,
Canada.
Asmoro P. 2003. Sistem Informasi Geografis Sebagai Sarana Manajemen Serta Wahana Koordinasi dan Integrasi. Dewan Telematika Indonesia. Jakarta.
Barus, Baba & U.S. Wiradisastra. 2000. Sistem Informasi Geografi. Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Barus, Baba. 2003. Development of A Framework for Multi-Scale Agricultural Sustainability usng GIS: A Case Study in West Java Indonesia. Department of Geography Faculty of the Enviroment University of Portsmouth, Portsmouth.
Barus, Baba. 2005. Kamus SIG (Sistem Informasi Geografis) dengan 128 diagram.SOTIS (Studio Teknologi Informasi Spasial) Bagian Penginderaan Jauh dan Kartografis, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, FAPERTA IPB, Bogor.
Boba R. 2001. Introduction to Crime Mapping. www.sagepub.com/ BobaFinalPDF-46245.pdf BPS. 2006. Kota Bogor dalam Angka 2006. Biro Pusat Statistik Kota Bogor, 2006
Chen H, Chung W, Xu JJ, Wang G, Qin Y, Chau M. 2004. Crime Data Mining: A General Framework and Some Examples. IEEEC Society. www.computer.org/crimemap/ieec-doc.pdf
Connolly TM, Begg CE. 2002. Database Systems: A Practical Approach to Design, implementation, and Management – Third Edition. USA : Addison Wesley.
ER Mapper. 1998. ER Mapper 6.0 Tutorial, Earth Resource Mapping Pty Ltd.
Escobar F, Hunter G, Bishop I, Zerger A. 2002.
Introduction To GIS. ESRI. 1999. MapObjects Online Reference. ESRI, Inc. [GIS Lounge] Crime Mapping: GIS Goes Mainstream. www.ounge.com/features/aa10100.shtml [24/10/05].
Goodchild M. 2001. Spatial Analysis and GIS. ESRI User Conference. National Center for Geographic Information and Analysis University of California. www.geog.ucsb.edu/Goodchild_GIS.htm [28/04/06]
Harries K. 2003. Mapping Crime: Principle and Analysis. www.ncjrs.org/html/niji/mapping.pdf
Johnson CP. 2000. Crime Mapping and Analysis Using GIS. Conference on Geomaticsin Electronic Governance. Pune. www.cdac.in/html/pdf/ geom4.pdf
Kraak M-J. 2002. Cartography : visualization of geospatial data. 2thEd. Pearson Education Limited, Edinburgh Gate, Harlow England
Longley PA, Goodchild M, Maguire D, Rhind D. 2001. Geographic Information System and Science. Wiley.
McLeod, R. 1995. Management information Systems: A Study of Computer-Base Information System. 6th Ed. Prentice-Hall, Inc, New Jersey.















