This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 21 September 2017

Tugas 5 Review karya Ilmiah tentang Proyeksi UTM

Proyeksi Peta
Proyeksi Peta adalah pemindahan bentuk bumi ( 3 Dimensi ) yang bulat ke peta bumi yang datar ( 2 Dimensi ) atau perpindahan dari bentuk lengkung ke bidang datar dalam hal ini menjadi sebuah peta

Universal Transvers Mercator
UTM (Universal Transvers Mercator ) Pada system proyeksi dimana menggunakan proyeksi  silinder, konform, secant, transversal yang memotong bumi pada dua meridian standar yang memotong bola bumi pada dua buah meridian, yang disebut dengan meridian standar. Meridian pada pusat zone disebut sebagai meridian tengah.


Macam-macam proyeksi peta :

Proyeksi Peta Azimuthal
Proyeksi azimuthal adalah proyeksi pada bola bumi yg bersinggungan contohnya menyinggung salah satu kutub Daerah kutub dan sekitar kutub misalnya titik pusat kutub, equator, maupun suatu titik tertentu antara kutub dan equator.



Proyeksi Peta Silinder
Proyeksi silinder menggunakan silinder sebagai bidang proyeksinya dan menyinggung bola Bumi. untuk di daerah di ekuator dan sekitar ekuator.


Proyeksi Peta Kerucut
Proyeksi kerucut adalah proyeksi berupa kerucut dan menyinggung salah satu paralel di sekitar lintang tengah.


Salah Satu Contoh Peta Sulawesi Utara beserta keterangannya :





SUMBER :
http://www.ilmusiana.com/2015/08/proyeksi-peta-pengertian-dan-macam.html
https://documents.tips/documents/proyeksi-polyeder.html

SUMBER GAMBAR :
http://www.ipsmudah.com/2017/05/jenis-jenis-proyeksi-peta-ciri-ciri.html
https://www.google.co.id/search?tbs=sbi:AMhZZisInjnXZQH7k3ovMOEUVG9ByCxuDIIP5iTzNusIx5eJHspQjEZi8bqLfVggBoE7HcwkC9VZ0yj7V5Z_1tvcxVj5SI50vwdpSVxWP95zKRC4fnKE8SYx2EJllTyCbYMOWNCMFPDRuKBIWv4Jl0xyvcV_1Q35xAf75Kwzbnzxrvkxu_1vO4F-tyGEt3nvEADOANuIKMjiTFYOA589o6mnP3CPJxjHHlIu_1wYfsrGV5J5mnUjK_11yuEGrnOaalwj_1at6l9ty-A5IUnUJGBhR301cMqXvaBZRzY98IMgXaqjLdK-RHspQZywdor27xvIAefwBqXAtjHo0C_1kss85A9XvSrv0DUHL7aGA
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyonBOGC5TAyD3vZoBfvYgZCo3PYDIxjrdL-rh1VkXRVYbUOriyp_CsQ2xT7HPDRYDKyU6CmcYSMd2OF6z7V2X8YO7D-EaLDK0N0_rhyphenhyphen9SzTRpXLZtuOo_67tU8N0h6fAfYHEoNpxIkFc/s1600/UTM.png

Share:

Kamis, 14 September 2017

Tugas 4 : Review Karya Ilmiah Tentang Data Spasial dan Data Atribut

Data Spasial 
Data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference) dimana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Data-data yang diolah dalam sistem informasi geografis (SIG) ini pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut, dimana data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan sedangkan data atribut merupakan data non spasial yang berfungsi menjelaskan berbagai objek pada data spasial tersebut. Dengan demikian analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut. Bentuk penyajian data spasial mempunyai tiga cara dasar yaitu dalam titik (point), garis (line) dan area (polygon). Titik merupakan interpretasi tunggal dari koordinat x,y yang menunjukkan lokasi suatu obyek tertentu seperti ketinggian, lokasi kota, titik ke dalaman, lokasi sarana prasarana, lokasi pengambilan sampel survey dan lain-lain. Garis merupakan sekumpulan titik-titik yang membentuk suatu tampilan memanjang seperti jalan, sungai, kontur ketinggian, kontur ke dalaman, jalur pelayaran dan lain-lain. Sedangkan area adalah kenampakan yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama dan membentuk suatu ruang yang memiliki informasi homogen, misalnya batas daerah, batas penggunaan lahan, pulau, kawasan konservasi, ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove dan lain sebagainya.
Data spasial dapat diperoleh dari beberapa sumber, antara lain :
1. Peta Analog.
Peta analog yaitu peta dalam bentuk cetak, seperti peta topografi, peta LLN (Lingkungan Laut Nasional), peta LPI (Lingkungan Pantai Indonesia) dan peta-peta tematik lainnya. Umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi dan kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya. Sebagai sumber data dalam SIG, peta analog harus dikonversi menjadi peta digital. Caranya dengan mengubah format raster menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga dapat mereferensikan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
2. Data Penginderaan Jauh.
Data penginderaan jauh seperti citra satelit, foto udara dan sebagainya, merupakan salah satu sumber data yang terpenting bagi SIG. Karena sifat datanya yang tersedia secara berkala serta bisa mencakup area tertentu yang diinginkan. Dengan beragamnya satelit di ruang angkasa dengan spesifikasi masing-masing, bisa diperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Melalui metode pengolahan data tertentu, data citra satelit dapat menampilkan informasi yang dibutuhkan seperti suhu perairan, kandungan klorofil perairan dan sebagainya. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.
3. Data Hasil Pengukuran Lapangan.
Data hasil pengukuran lapangan merupakan data yang dihasilkan berdasarkan metode pengukuran dan perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut, contohnya nilai parameter fisika-kimia-biologi kualitas perairan, persentase tutupan terumbu karang, kerapatan mangrove dan lain-lain. Untuk membuat data-data hasil pengukuran ini bisa digunakan dalam SIG, maka harus dimasukkan informasi spasial ke dalam data tersebut, yaitu koordinat lokasi pengambilan sampel.
4. Data GPS (Global Positioning System).
Teknologi GPS telah memberikan terobosan penting dalam penyediaan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data-data yang dapat diperoleh dengan menggunakan GPS diantaranya adalah data poin yang menunjukkan lokasi dari tempat-tempat tertentu (point of interest). Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.
5. Data Bereferensi Spasial Lainnya.
Data lain yang memiliki referensi spasial seperti batas administrasi wilayah dapat dijadikan sebagai sumber data atribut dalam data SIG. Umumnya data ini bersifat tabular dan berisi segala macam informasi dari berbagai bidang, termasuk kelautan dan perikanan, di daerah administrasi tertentu misalnya seperti data-data statistik kabupaten/kota dan provinsi. Dengan menggunakan informasi batas administrasi pada data-data tersebut, selanjutnya data dapat digabungkan ke data spasial batas administrasi sebagai atribut tambahan yang kemudian dapat digunakan untuk visualisasi data yang lebih informatif.

Data Atribut
Data yang terdapat pada ruang atau tempat. Atribut menjelaskan suatu informasi. Data atribut diperoleh dari statistik, sensus, catatan lapangan dan tabular (data yang disimpan dalam bentuk tabel) lainnya. Data atribut dapat dilihat dari segi kualitas, misalnya kekuatan pohon. Dan dapat dilihat dari segi kuantitas, misalnya jumlah pohon.

Sumber :
https://karyatulisilmiah.com/pengertian-data-spasial/
http://www.grizenzio.com/2017/04/makalah-sistem-informasi-geografis.html

Share:

Rabu, 06 September 2017

Tugas 3 : SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENDATAAN DAN PENGARSIPAN ASET PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JATENG DAN D.I.Y

Metodologi penelitian dapat diartikan ilmu yang dilewati untuk mencapai pemahaman
tertentu. Dalam pembuatan aplikasi ini metodelogi yang di gunakan adalah metodologi waterfall
oleh Sammerville Ian 2009[9].
a. Requirements Definition
b. System and Software Design
c. Implementation and Unit Testing
d. Integration and System Testing
e. Operation and Maintenance

Perancangan Sistem
Dalam tahap ini, kami menggunakan structural design, yaitu dengan menggunakan DFD, yang sebelumnya didahului dengan merancangDiagram konteks terlebih dahulu. Diagram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks tersebut menggambarkan suatu bagan aliran data yang dijabarkan secara global. Pada diagram konteks ini, aliran data dijabarkan secara global yang menggambarkan aliran data yang bersumber pada administrator yang melakukan proses pengolahan data. Sistem Informasi Geografis Pendataan dan Pengarsipan Aset PT. PLN (Persero) Distribusi Jateng dan D.I.Y dimulai dengan mengolah data-data yang dimasukkan dan dilakukan oleh administrator.
Sistem dimulai dengan memasukkan data-data master, kemudian data digitasi dan laporanlaporan yang akan dihasilkan. Semua data-data tersebut akan diproses untuk dijadikan sebuah informasi dan laporan yang dibutuhkan.

Dari hasil perancangan, maka akan dibuat sebuah aplikasi Sistem Informasi Pendataan dan Pengarsipan Aset PT. PLN (Persero) Distribusi Jateng DIY untuk membantu PLN dalam melayani masyarakat. Hasil capture aplikasi seperti gambar dibawah ini.


Kesimpulan
Dari hasil analisisa dan perancangan, serta implementasi dan pembahasan pada bab
sebelumnya dalam skripsi ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
(1) Menghasilkan sistem informasi geografis secara online di PT. PLN (Persero) Distribusi
Jateng D.I.Y dengan MAP API V3.
(2) Dalam aplikasi memuat data lokasi berupa lokasi pembangkit listrik, Gardu Distribusi,
Kantor PT. PLN (Persero) Distribusi Jateng dan D.I.Y, SUTET, SUTT, Tiang SUTET,
tiang SUTT.
Kesimpulan
Dari hasil analisisa dan perancangan, serta implementasi dan pembahasan pada bab
sebelumnya dalam skripsi ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
(1) Menghasilkan sistem informasi geografis secara online di PT. PLN (Persero) Distribusi
Jateng D.I.Y dengan MAP API V3.
(2) Dalam aplikasi memuat data lokasi berupa lokasi pembangkit listrik, Gardu Distribusi,
Kantor PT. PLN (Persero) Distribusi Jateng dan D.I.Y, SUTET, SUTT, Tiang SUTET,
tiang SUTT.

DAFTAR PUSTAKA
Yeyep Yousman, 2004. Sistem Informasi Geografis dengan MapInfo Profesional. Andi
Yogyakarta. ISBN/ISSN, 979-731-417-0
Iswahyudi, 2013. Database Visual Asset Jaringan Distribusi Untuk Mendukung Peningkatan
Kinerja Perusahaan. Pelatian Pusat Pendidikan dan Pelatihan Udiklat Pandaan PLN (Persero)
Jember.
Dwi Atika. 2008. “Membuat Database Tanah di PT. PLN (Persero) Distribusi Jateng dan DIY.
(Pelatihan di PT. PLN (Persero) Distribusi Jateng dan DIY”. Telaah Staff PT. PLN (Persero)
Distribusi Jateng dan DIY Yogyakarta.
Faya mahdia, Fiftin Noviyanto. 2013. “Pemanfaatkan Google MAP API untuk Pembangunan
Sistem Informasi Manajemen Bantuan Logistik Pasca Bencana Alam Berbasis Mobile Web”,
Jurnal Sarjana Teknik Informatika Volume 1 Nomor 1, Juni 2013. e-ISSN: 2338-5197.
Sammerville Ian, 2009. Software engineering,ebook. ISBN 10: 0-13-703515-2.

Share:

Sabtu, 26 Agustus 2017

Tugas 2 : Pengembangan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis Web

SIG adalah suatu sistem komputer untuk menangkap, mengatur, mengintegrasi, memanipulasi, menganalisis dan menyajikan data yang bereferensi ke bumi secara spasial dan geografis. Tidak seperti peta tercetak biasa yang hanya menyajikan data spasial seperti data jalan, lokasi ibukota dan batas wilayah. SIG mampu mengintegrasikan data atribut (misalnya data statistik penduduk) dengan data spasial. Sistem Informasi Geografis dapat digunakan  sebagai alat bantu dalam melakukan analisis dan pengambilan suatu keputusan. Salah satu bentuk aplikasinya adalah pemetaan tindak kejahatan atau pemetaan kriminal (Crime Mapping) untuk analisis kriminal (Crime Analist). Jenis kejahatan itu terbagi atas empat kategori yaitu tindak kejahatan konvensional (pembunuhan), tindak kejahatan transnasional (narkoba), tindak kejahatan berimplikasi kontijensi (kerawanan sosial), dan tindak kejahatan terhadap kekayaan negara (korupsi). Pemetaan kriminal sudah lama menjadi bagian terpenting dari analisis kriminal. Sebelum ditemukannya komputer, pemetaan tindak kejahatan sudah dilakukan dengan meletakkan pin pada sebuah peta besar. Satu kekurangan utama yang dihadapi oleh sistem ini adalah data yang lama hilang tertimpa oleh data yang baru. Oleh karena itu, pemetaan elektronis dengan menggunakan sistem komputer yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan mengorganisasi informasi geografis sangat diperlukan. Seiring dengan perkembangan teknologi, sistem ini ikut berkembang pula dan sekarang dikenal sebagai GIS crime mapping. Pemetaan tindak kejahatan menjadi sangat penting karena dengan adanya pemetaan secara elektronis, pola penyebaran suatu tindak kejahatan dapat diketahui.

Tujuan Penelitian
Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah merancang dan mengimplementasikan sistem informasi geografis tindak kejahatan multilevel berbasis web di kota Bogor yang dapat diakses melalui intranet atau internet. Dari sistem yang dibangun dapat diketahui pola
kepadatan tindak kejahatan di Kota Bogor; studi kasus kelurahan Tanah Baru, lokasi – lokasi yang rawan tindak kejahatan, hubungan antara waktu terjadinya tindak kejahatan, hubungan antara lokasi kantor polisi, lokasi terjadinya tindak kejahatan, hubungan antara permasalahan sosial-ekonomi dengan terjadinya tindak kejahatan. Sistem juga dapat memberikan saran sebagai masukan kepada aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian dalam pengambilan keputusan.

 Pemetaan ini mempunyai tiga peran dalam analisis kriminal, yaitu:
• menyediakan fasilitas analisis visual dan analisis statistika,
• sebagai jembatan untuk menghubungkan data penunjang seperti data sensus, data jumlah penduduk dan data lokasi pos polisi,
• menampilkan output berupa data visual. Analisis Kriminal Analisis kriminal adalah suatu set proses yang diaplikasikan terhadap pola kriminal. Personel administrasi dan operasional dapat menggunakan hasil dari analisis kriminal ini untuk mencegah dan menekan aktifitas kriminal dan investigasi atas suatu tindakan kriminal

Tipe Analisis Kriminal
Ada enam tipe analisis kriminal, yaitu :
• Tactical Crime Analysis
• Strategic Crime Analysis
• Administrative/Academic Analysis
• Operations Analysis
• Intelligence Analysis
• Investigative Analysis

METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Metode yang digunakan untuk pengembangan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan ultilevel berbesis web ini adalah System Development Life Cycle (SDLC) yang sudah dimodifikasi. Fase-fase pada SLC terdiri fase perencanaan, analisis sistem, desain sistem, implementasi sistem dan penggunaan, tetapi kenyataannya untuk pengembangan sistem ini setelah fase tertentu bisa kembali melakukan proses pada fase sebelumnya, dan seterusnya.



Perencanaan Sistem
Tahap ini dilakukan pengumpulan data, baik data spasial maupun data atribut. Kemudian data dianalisis untuk merancang sebuah sistem informasi geografis. Pengumpulan data dilakukan melalui proses pengambilan data dari kantor Kepolisi sektor sekota Bogor dan wawancara dari beberapa anggota Kepolisian di Kepolisian Resta Bogor, yang menangani tugas administrasi tindak kejahatan di kota bogor. Pada konsep Multilevel pada sistem informasi geografis tindak kejahatan : data/informasi tindak kejahatan semakin lengkap (detail) sedangkan daerah tindak kejahatan semakin kecil, artinya tergantung dari orang yang menggunakan data/informasi tersebut, semakin tinggi level orang/pengguna informasi tersebut maka informasi dalam bentuk laporan yang diharapkan semakin sedikit misalnya : Kapolwil hanya membutuhkan excexutive summary tindak kejahatan di kota Bogor, sedangkan semakin rendah level orang/pengguna informasi yang diharapkan semakin lengkap (detail)

Pada penelitian ini data dari level yang terkecil akan menjadi masukan/gambaran dari data dari level yang tertinggi, artinya data level yang tinggi merupakan agregasi data level yang rendah. Analisis Sistem Pada tahap analisis dilakukan analisis kebutuhan sistem. Hasil dari analisis kebutuhan sistem ini diperlukan sebagai acuan dalam menyusun spesifikasi sistem yang akan dikembangkan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap analisis adalah memahami sistem yang sudah dan sedang berjalan, mengidentifikasi permasalahan pada sistem yang sedang berjalan dan menarik kesimpulan dari proses analisis yang telah dilakukan.

Data yang diperlukan untuk menunjang penelitian di peroleh dari berbagai kegiatan, antara lain : Studi Pustaka, Pengambilan data, Wawancara dan Observasi. Pengumpulan data dari Kantor Polisi Sektor sekota Bogor yang berupa data harian kriminal di Kota Bogor selama dua setengah tahun terakhir yaitu dari tahun 2004 sampai 2006. Data ini merupakan laporan dari seluruh Pos Polisi di Kota Bogor yang kasusnya sebagian besar terselesaikan. Data spasial lain yang juga dikumpulkan dari Kantor Polwil/Polresta Bogor adalah data lokasi kantor polisi. Data penunjang lain seperti data jumlah penduduk di seluruh kecamatan diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) Bogor.

Perancangan Sistem
Setelah dilakukan analisis, kebutuhan-kebutuhan yang didefinisikan dalam tahap analisis lalu diterjemahkan ke dalam bentuk model presentasi sistem aplikasi. Pada tahap ini dirancang arsitektur perangkat lunak, antar muka, input, proses dan output dalam menggunakan aplikasi. Tahap perancangan dilakukan guna memudahkan tahap berikutnya yakni tahap implementasi. Tahap perancangan sistem mencakup rancangan, basis data, rancangan sistem, dan rancangan antarmuka sesuai dengan tujuan dan kebutuhan dikembangkannya sistem.
Perancangan Sistem Informasi yang dikembangkan dibagi
menjadi dua, yaitu :
• Rancangan sistem secara umum, yang digunakan adalah perancangan secara top-down approach yang mendeskripsikan sistem secara umum dan bila diperlukan dapat diturunkan lagi sampai bentuk paling detil.
• Rancangan sistem secara detail, Spesifikasi sistem yang dibangun, secara lebih rinci meliputi perancangan database, perancangan struktur navigasi, perancangan sistem dengan flowchart dan perancangan halaman.
Implementasi Sistem
Tahap implementasi sistem merupakan pengaplikasian bentuk sistem yang akan dirancang ke dalam bahasa program tertentu untuk menghasilkan sistem aplikasi. Tahap implementasi (System Implementation) merupakan tahap meletakkan sistem supaya siap untuk dioperasikan.
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1. Material Collecting, yaitu pengumpulan bahan yang diperlukan dalam pengembangan SIG berbasis web.
2. Assembly, yaitu tahap pembuatan seluruh objek yang terlibat dalam pengembangan sistem ini.
3. Testing, yaitu tahap pengujian secara modular terhadap sistem ini.
Pada tahap ini, perangkat lunak yang digunakan adalah ArcView untuk mengolah peta, PHP untuk aplikasi web serta SQL server untuk penyediaan database. Implementasi sistem dilakukan pada PC yang disimulasikan menjadi server menggunakan IIS (Internet Information Server), serta server yang berfungsi sebagai web server sekaligus aplication server.

HASIL DAN PEMBAHASAN PERENCANAAN SISTEM
Identifikasi Masalah Penggunaan aplikasi dengan menggunakan teknologi informasi berbasis komputer yang tepat guna akan memudahkan pengguna untuk menyimpan dan mengolah data serta memperoleh informasi secara cepat dan aktual. Banyaknya tindak kejahatan yang terjadi di berbagai tempat dan waktu kejadian yang berbeda-beda menyebabkan kesulitan tersendiri dalam menentukan daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Berdasarkan keterangan di atas, beberapa masalah
yang muncul, di antaranya :
1. Pencatatan data tindak kejahatan yang menggunakan sistem manual tidak terlalu efektif dan efisien untuk memperoleh data secara cepat.
2. Sulitnya membandingkan tingkat kerawanan antar daerah satu dengan lainnya dalam sistem manual.
3. Komunikasi yang kurang antara mitra dan perusahaan karena keterbatasan sistem yang lama yang tidak mampu menjangkau beberapa daerah.
Batasan Pengguna
Dalam pembangunan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis web (SIGTIKEM) ini target pengguna yang mengakses adalah pengguna yang kurang memahami akan pengaksesan perangkat lunak SIG, sehingga metode penempatan atau tata letak dari menu navigasi, tombol fungsi maupun pemilihan warna dan jenis huruf untuk isi dari web ini diatur sedemikian rupa agar dapat memudahkan pengguna.

ANALISIS
Analisis Kebutuhan Sistem Polres Kota Bogor merupakan aparat penegak hukum yang bisa memberikan keamanan dan perlindungan bagi masyarakat khususnya yang berada di Bogor. Pada saat ini, tindak kejahatan semakin meningkat khususnya yang berada pada daerah Bogor, sehingga dibutuhkan suatu sistem informasi yang dapat menangani data secara cepat, tepat dan akurat. Tindak kejahatan yang terjadi bisa dipetakan. Pemetaan jumlah tindak kejahatan dalam bentuk warna pada peta bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi SIG. Kota Bogor yang terdiri dari kecamatan dan kelurahan akan dijadikan data dalam SIGTIKEM ini. Diharapkan dengan menggunakan sistem ini, pihak kepolisian akan memperoleh peta informasi mengenai daerah-daerah yang rawan terjadinya tindak kejahatan. Bidang kajian tindak kejahatan yang diambil adalah tindak kejahatan konvensional di kota Bogor.

Tindak kejahatan konvensional itu sendiri adalah tindak kejahatan yang dilakukan dengan motivasi dan modus tindak kejahatan umum. Tindak kejahatan konvensional terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:
1. Kejahatan terhadap manusia seperti pembunuhan, penganiayaan dengan alat berat (anirat), penganiayaan tanpa alat berat (aniring), penculikan, pemerasan/ancaman, pencurian dengan kekerasan (curas), perkosaan, zinah, pencemaran nama baik/penghinaan, dll.
2. Kejahatan terhadap harta benda seperti penipuan dan penggelapan, pencurian dengan alat berat (curat), pencurian tanpa alat berat (curing), sengketa rumah/tanah, pemalsuan otentik, asuransi, pencurian kendaraan roda dua (curanmor R-2), pencurian kendaraan roda empat (curanmor R-4), dll.
3. Kejahatan terhadap masyarakat seperti perjudian, pelacuran, ketertiban, pengrusakan, dll.
Analisis Kebutuhan Informasi
Fitur-fitur yang ada pada Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel berbasis web (SIGTIKEM) adalah sebagai berikut :
1. Informasi kepolisian. Informasi ini berupa teks yang berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan profil kepolisian. Informasi ini berisi profil mengenai tindak kejahatan dan visi misi.
2. Informasi tindak kejahatan yang ditampilkan dapat berisikan data seluruh tindak kejahatan ataupun data tertentu hasil pencarian yang berada dalam basis data.
3. Informasi tindak kejahatan yang dipetakan dalam bentuk berupa peta kecamatan dan kelurahan. Pewarnaan pada kedua peta itu merepresentasikan banyaknya kejahatan yang terjadi berdasarkan pola waktu, tindak kejahatan umum, tindak kejahatan spesifik, bulan, dan tahun kejadian.
Masing-masing daerah yang terdapat dalam peta menyimpan informasi tindak kejahatan di daerah tersebut. Dasar pewarnaan penentuan tindak kejahatan diambil antara 0 s.d. 20 mempresentasikan jumlah tindak kejahatan yang terjadi. Dasar pewarnaan diperoleh setelah berdiskusi dengan pengguna untuk membedakan setiap daerahnya.
4. Informasi tindak kejahatan dapat disajikan dalam bentuk grafik. Grafik ditampilkan dalam bentuk grafik diagram batang yang merepresentasikan jumlah tindak kejahatan per kelurahan, tindak kejahatan umum dan spesifik, serta pola waktu berdasarkan waktu tertentu.
5. Penghitungan JTK dan PTKpada waktu tertentu.
6. Informasi lain seperti kegiatan lain kepolisian.
7. Matriks informasi yang dapat ditampilkan setiap levelnya dapat dilihat pada

PERANCANGAN SISTEM
Detail Perancangan Sistem Sistem informasi ini dibangun dengan tujuan untuk menyediakan informasi tindak kejahatan konvensional yang terjadi di kota Bogor. Informasi yang disajikan berupa teks yang berisikan data tindak kejahatan, bentuk grafis berupa peta yang terdiri dari peta kecamatan dan kelurahan sekota Bogor, dan diagram. Setiap kebutuhan informasi dalam sistem ini diperoleh melalui diskusi dengan pengguna.
Pengguna SIGTIKEM ini terdiri atas dua kategori pengguna yaitu pengguna biasa dan administrator.
Pengguna biasa yaitu seluruh lapisan masyarakat yang dapat mengakses data umum yang diberikan oleh SIGTIKEM, sedangkan administrator adalah anggota kepolisian Polresta Bogor pada bagian operasional yang berperan dalam mengelola dan memelihara data pada sistem. Proses yang terjadi pada penggunaan SIGTIKEM berupa pencarian data, pemasukan data, pengeditan data, dan penghapusan data. Pemasukan data terdiri dari data umum dan data admin. Pengeditan data dan penghapusan data dilakukan pada data yang sama. ata yang dimasukkan oleh pengguna umum  disimpan ke dalam data umum, seperti data komentar dan buku tamu, sedangkan data admin adalah data yang hanya bisa diisi, diakses dan dimanipulasi oleh administrator sistem, seperti data agenda, buku tamu, komentar, laporan harian, dan user.

Selain menu navigasi SIGTIKEM di atas, fasilitas yang disediakan antara lain fasilitas pencarian yang terdapat pada menu administrator dan navigasi Menu Peta. Pencarian pada menu administrator terdiri atas pencarian data agenda dan laporan harian tindak kejahatan. Pada navigasi Submenu Peta, form pencarian data ditujukan untuk melihat informasi jumlah penyelesaian tindak kejahatan serta grafik tindak kejahatan berdasarkan bulan dan tahun serta untuk melihat pewarnaan pada peta yang diambil berdasarkan lima kategori yaitu pola waktu, tindak kejahatan, bulan, dan tahun, informasi jumlah penyelesaian tindak kejahatan serta grafik tindak kejahatan berdasarkan bulan dan tahun. Selain itu, fasilitas yang disediakan adalah fasilitas pengolahan data untuk administrator yang terdiri atas input, edit, dan hapus.

Menu input laporan harian terdiri dari laporan harian, kejahatan, pelapor, korban, dan pelaku. Identitas pelapor, korban, dan pelaku dimasukkan melalui form pelapor, korban, dan pelaku. Di sisi lain, form input laporan harian terdiri atas Nomor Polisi (Nopol), tanggal dan jam kejadian tindak kejahatan terjadi, tanggal dan jam laporan pelapor kepada pihak kepolisian, Tempat Kejadian Perkara (TKP), kelurahan, Modus Operandi (MO) yaitu cara yang dilakukan oleh pelaku pada saat melakukan tindak kejahatan, status laporan yang berarti status mengenai penyelidikan tindak kejahatan yang terjadi, dan uraian singkat kejadian. Pada form input tindak kejahatan terdiri dari Nopol dan tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku.

Penggunaan Sistem
Pengembangan sistem operasional SIGTIKEM dilakukan dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP. Pengkodean terhadap situs diperlukan agar sistem dapat menampilkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan pengguna. Sistem operasional ini akan digunakan oleh pengguna SIGTIKEM yaitu anggota kepolisian dan administrator. Fungsi-fungsi dan pengujian pada sistem dijelaskan pada tahap ini.

Banyaknya tindak kejahatan tiap kecamatan dan kelurahan diambil berdasarkan jumlah tindak kejahatan yang masuk ke dalam basis data. Warna pada masingmasing daerah disesuaikan dengan jumlah tindak kejahatan yang terjadi dan ditampilkan berdasarkan pola waktu kejadian, tindak kejahatan dalam bentuk umum dan spesifik, bulan, dan tahun yang dipilih pengguna. Pengelompokan pada peta tersebut memperlihatkan bahwa banyaknya tindak kejahatan kecamatan Bogor Utara pada bulan Januari 2006 berada pada kisaran sebelas sampai dengan dua puluh. Kedua kecamatan ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya yang berada dibawah 11 kejadian. Apabila dilihat secara keseluruhan berarti persentase banyak tindak kejahatan di kota Bogor yang ditampilkan dengan warna coklat tua adalah 16,67%, coklat 16,67%, dan coklat muda sebanyak 66,67%.

Setelah itu melihat kerawanan tindak kejahatan kelurahan Tanah Baru merupakan kelurahan yang tingkat tindak kejahatannya lebih banyak dibandingkan kelurahan lainnya di kecamatan Bogor Utara. Pewarnaan pada peta Kecamatan Bogor Utara – kelurahan Tanah Baru dapat dilihat pada

Apabila dilihat dari contoh data tindak kejahatan di atas, daerah yang memiliki tingkat tindak kejahatan lebih banyak memiliki jarak yang saling berdekatan. DaerahBtersebut antara kecamatan Bogor Timur dan Bogor Utara serta kelurahan Tanah Baru. Menurut data di Polres Bogor, ada faktor-faktor penyebab suatu daerah mengalami tindak kejahatan lebih tinggi dibandingkan lainnya, faktor-faktornya ialah :

• Adanya kemudahan berupa informasi dari orang ’dalam’, sewaktu melakukan tindak kejahatan di daerah tersebut.
• Daerah tersebut memiliki keuntungan yang lebih bagi pelaku.
• Jalan pelarian bagi pelaku lebih mudah.
Dengan adanya pengelompokkan jumlah tindak kejahatan yang diperlihatkan dengan pewarnaan pada peta, kepolisian Polresta Bogor dapat lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibanding daerah lainnya.

Berdasarkan grafik per bulannya, tindak kejahatan sering terjadi berada di bulan September. Hal ini disebabkan karena awal bulan puasa terjadi pada bulan tersebut. Grafik yang ditampilkan diurutkan dari yang tertinggi sampai dengan terendah kecuali grafik tindak kejahatan per bulan. Khusus grafik tindak kejahatan yang spesifik, setiap tindak kejahatan diurutkan dan dikelompokkan sesuai dengan tindak kejahatan umum masing-masing. Warna batang pada tindak kejahatan terhadap manusia berwarna hijau, tindak kejahatan terhadap harta benda berwarna jingga, dan tindak kejahatan terhadap masyarakat berwarna merah. gambar tampilan informasi JTK dan PTK kelurahan Tanah Baru, kecamatan Bogor Utara pada tahun 2006. Berdasarkan informasi yang diperoleh terlihat bahwa total jumlah tindak pidana pada tahun 2006 yang terjadi sebanyak sembilan puluh dua dan hanya dua kasus yang tidak terselesaikan. Hal ini berarti persentase tingkat keberhasilan penyelesaian kasus tindak kejahatan konvensional pada tahun 2006 di kelurahan Tanah Baru, kecamatan Bogor Utara mencapai 83,33%. Melalui informasi ini, tingkat keberhasilan penyelesaian kasus tindak kejahatan yang terjadi dapat diketahui oleh pihak kepolisian.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
• SIGTIKEM merupakan aplikasi web-GIS yang menampilkan informasi tindak kejahatan multilevel yang terjadi di kota Bogor yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai acuan untuk melihat tindak kejahatan pada waktu tertentu dengan kriteria tertentu baik melalui intranet maupun internet.
• Informasi yang ditampilkan berupa data teks, peta, dan grafik.
• Tingkat kerawanan suatu daerah digambarkan dengan warna yang berbeda. Setiap jenis tindak kejahatan baik di level kota, kecamatan maupun level kelurahan yang sering terjadi akan lebih terlihat dengan berbeda warna pada peta sesuai dengan tingkat kerawanannya, sehingga harapnya adalah adanya tindak lanjut dari pihak penegak hukum terhadap daerah yang sering terjadi tindak kejahatan.
• Selain data yang lebih rinci sebagai tambahan informasi ditampilkan pula data hasil perhitungan jumlah tindak kejahatan beserta penyelesaiannya. Oleh karena hal tersebut SIGTIKEM diharapkan dapat membantu pihak penegak hukum dan atau masyarakat pada umumnya untuk memperoleh data tindak kejahatan secara cepat, tepat dan akurat.
• Data dapat dimasukkan dan diolah secara langsung oleh sistem.
• Pihak kepolisian dapat membandingkan jumlah tindak kejahatan antar daerah (kelurahan, kecamatan, sampai tingkat RW), tipe tindak kejahatan, pola waktu dan peoride waktu (bulan dan tahun).
• Menampilkan laporan harian dalam bentuk pdf.
• Sifat peta masih statis.

Saran
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, oleh karena itu, saran-saran yang dapat diberikan untuk penelitian lebih lanjut, antara lain:
• SIGTIKEM bisa dikembangkan dengan data yang lebih detail dan memperluas kajian jenis kejahatan, seperti penambahan jenis tindak kejahatan transnasional, tindak kejahatan kontijensi, dan tindak kejahatan terhadap kekayaan negara.
• Selain itu dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk data ke level yang lebih rendah lagi yaitu level Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT), sehingga cakupan datanya lebih luas dan informasi yang didapatkan lengkap dan detail.
• SIGTIKEM ini dibangun dengan menggunakan data kelurahan Tanah Baru kota Bogor, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan data tindak kejahatan di daerah lainnya atau secara nasional.
• Untuk lebih memberikan informasi yang lebih kepada user, penambahan jenis grafik keluaran, dengan demikian akan menambah informasi dan sangat berguna bagi penegak hukum.12

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi M. 2003. Crime Mapping and Spatial Analysis. www.itc.nl/library/Papers2003/msc/gfm/ahmadi.pdf
Aronoff, Stan. 1995. Geographic Information System: A Management Perspective, WDL Publications,
Canada.
Asmoro P. 2003. Sistem Informasi Geografis Sebagai Sarana Manajemen Serta Wahana Koordinasi dan Integrasi. Dewan Telematika Indonesia. Jakarta.
Barus, Baba & U.S. Wiradisastra. 2000. Sistem Informasi Geografi. Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Barus, Baba. 2003. Development of A Framework for Multi-Scale Agricultural Sustainability usng GIS: A Case Study in West Java Indonesia. Department of Geography Faculty of the Enviroment University of Portsmouth, Portsmouth.
Barus, Baba. 2005. Kamus SIG (Sistem Informasi Geografis) dengan 128 diagram.SOTIS (Studio Teknologi Informasi Spasial) Bagian Penginderaan Jauh dan Kartografis, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, FAPERTA IPB, Bogor.
Boba R. 2001. Introduction to Crime Mapping. www.sagepub.com/ BobaFinalPDF-46245.pdf BPS. 2006. Kota Bogor dalam Angka 2006. Biro Pusat Statistik Kota Bogor, 2006
Chen H, Chung W, Xu JJ, Wang G, Qin Y, Chau M. 2004. Crime Data Mining: A General Framework and Some Examples. IEEEC Society. www.computer.org/crimemap/ieec-doc.pdf
Connolly TM, Begg CE. 2002. Database Systems: A Practical Approach to Design, implementation, and Management – Third Edition. USA : Addison Wesley.
ER Mapper. 1998. ER Mapper 6.0 Tutorial, Earth Resource Mapping Pty Ltd.
Escobar F, Hunter G, Bishop I, Zerger A. 2002.
Introduction To GIS. ESRI. 1999. MapObjects Online Reference. ESRI, Inc. [GIS Lounge] Crime Mapping: GIS Goes Mainstream. www.ounge.com/features/aa10100.shtml [24/10/05].
Goodchild M. 2001. Spatial Analysis and GIS. ESRI User Conference. National Center for Geographic Information and Analysis University of California. www.geog.ucsb.edu/Goodchild_GIS.htm [28/04/06]
Harries K. 2003. Mapping Crime: Principle and Analysis. www.ncjrs.org/html/niji/mapping.pdf
Johnson CP. 2000. Crime Mapping and Analysis Using GIS. Conference on Geomaticsin Electronic Governance. Pune. www.cdac.in/html/pdf/ geom4.pdf
Kraak M-J. 2002. Cartography : visualization of geospatial data. 2thEd. Pearson Education Limited, Edinburgh Gate, Harlow England
Longley PA, Goodchild M, Maguire D, Rhind D. 2001. Geographic Information System and Science. Wiley.
McLeod, R. 1995. Management information Systems: A Study of Computer-Base Information System. 6th Ed. Prentice-Hall, Inc, New Jersey.

Share:

Rabu, 23 Agustus 2017

Sistem Informasi Geografis dan Basis Data Spasial

 Pengertian Peta ?

Peta adalah gambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil atau diskalakan yang berada diatas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar atau maket dengan skala tertentu. Sederhananya, peta digambarkan dengan menggunakan ukuran, symbol dan sistem generalisasi (penyederhanaan) dijelaskan dalam bentuk symbol dan dibuat mengikuti aturan luas, sama bentuk, sama jarak dan sama arah. Kumpulan dari beberapa peta disebut atlas.

Peta memiliki fungsi sebagai berikut :

  • Menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi
  • Mengetahui arah, jarak dan luas suatu tempat.
  • Mengetahui penampakan di permukaan bumi
  • Menyajikan data tentang potensi suatu daerah
  • Menggambarkan bentuk-bentuk penampakan permukaan bumi seperti benua, negara, gunung
  • Mengumpulkan dan menyeleksi menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikan di atas peta
  • Menampilkan informasi yang dibutuhkan untuk disiplin ilmu tertentu

Tujuan dibuatnya peta:

  • Sebagai komunikasi informasi antar ruang
  • Menyimpan informasi sebagai referensi dari tahun ke tahun
  • Mempermudah suatu pekerjaan misalnya desain jalan
  • Analisis data spasial untuk kebutuhan khusus

Berdasarkan isi data yang disajikan, peta dibagi menjadi peta umum dan peta tematik.

1) Peta Umum

Peta umum yaitu peta yang menggambarkan semua unsur topografi di permukaan bumi, baik unsur alam maupun unsur buatan manusia, serta menggambarkan keadaan relief permukaan bumi yang dipetakan.

2) Peta Tematik


Peta tematik yaitu peta yang menggam- barkan informasi dengan tema tertentu/ khusus. Misal peta geologi, peta penggunaan lahan, peta persebaran objek wisata, peta ke- padatan penduduk, dan sebagainya. Salah satu contoh peta tematik adalah peta penggunaan lahan. Peta penggunaan lahan merupakan peta yang khusus menunjukkan persebaran peng gunaan lahan suatu wilayah yang dipetakan.

Pengertian GIS (Geographic Information System) 

Sistem adalah suatu himpunan atau variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling bergantung satu sama lain dan terpadu serta mempunyai tujuan dan sasaran. Informasi adalah suatu yang nyata atau setengah nyata yang dapat mengurangi derajat ketidakpastian tentang suatu keadaan atau kejadian.

Sistem Informasi adalah sekumpulan prosedur organisasi yang pada saat dilaksanakan akan memberikan informasi bagi pengambil keputusan dan atau untuk mengendalikan organisasi.
Geografis adalah gabungan kata geo dan graphy. Geo: bumi, graphy: proses penulisan, sehingga geografi adalah penulisan tentang bumi. pengertian geografi mencakup hubungan manusia dengan tempat meraka berpijak dan menguasai sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pengertian Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sebuah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk mengambil, menyimpan, menganalisa, dan menampilkan informasi dengan referensi geografis.

Pengertian Data spasial 

Sebuah data yang berorientasi geografis dan memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar. Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain.

Informasi lokasi (spasial) merupakan informasi yang berkaitan dengan suatu  koordinat  baik koordinat  geografi  (lintang  dan  bujur)     maupun koordinat Cartesian XYZ (absis, ordinat dan ketinggian), termasuk diantaranya sistem proyeksi.

Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non-spasial merupakan informasi suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengan lokasi tersebut, contohnya jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya. Informasi atribut seringkali digunakan pula untuk menyatakan kualitas dari lokasi.

Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format yaitu 

1) Model Data Raster

Data raster atau disebut juga dengan sel grid adalah data yang dihasilkan dari sistem penginderaan jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan piksel (picture element). Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa

2) Model Data Vektor

Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah garis). Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Data spasial yang digunakan dalam proyek SIG dapat berasal dari berbagai sumber. 

Beberapa sumber yang umumnya digunakan dalam pembangunan  basis data spasial adalah sebagai berikut :

a) Peta Analog
Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah, peta kawasan hutan dan perairan, dan sebagainya) yaitu peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya. Peta analog yang meliputi wilayah yang luas, seperti peta topografi, peta penggunaan lahan dan peta lereng, umumnya bersumber pada citra satelit atau foto udara. Proses digitasi dapat pula dilakukan langsung bila tersedia meja digitasi. Sebagian besar digitasi peta analog dilakukan on-screen atau langsung di monitor setelah peta dikonversi menjadi peta raster melalui pemindai (scanner).

b) Citra Penginderaan Jauh
Data Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit dan foto-udara), merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG, utamanya untuk memantau kondisi lahan, karena ketersediaanya secara berkala dan mencakup area tertentu yang cukup luas). Dengan adanya bermacam- macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing kita bisa memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data citra satelit sebagian besar disediakan dalam format raster.

c) Data Hasil Pengukuran
Data pengukuran lapangan yang dihasilkan berdasarkan teknik pemetaan tersendiri,  pada  umumnya  data  ini  merupakan  sumber  data atribut, contohnya batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, trase (alur) jalan hutan dan lain lain.

d) Data Global Positioning System
Teknologi Global Positioning System (GPS) memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.

Pengertian GPS
Pengertian GPS (lobal Positioning System) adalah sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan sinyal satelit yang menggunakan satelit yang didesain agar dapat menyediakan posisi secara instan, kecepatan dan informasi waktu di hampir semua tempat di muka bumi, setiap saat dan dalam kondisi cuaca apapun.

Cara Kerja GPS
Bagian yang paling penting dalam sistem navigasi GPS adalah beberapa satelit yang berada di orbit bumi atau yang sering kita sebut di ruang angkasa. Satelit GPS saat ini berjumlah 24 unit yang semuanya dapat memancarkan sinyal ke bumi yang lalu dapat ditangkap oleh alat penerima sinyal tersebut atau GPS Tracker

Fungsi dan Kegunaan GPS
Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari sistem navigasi GPS bagi masyarakat seluruh dunia dan 

Beberapa fungsi dan kegunaan GPS tersebut bisa dibagi kepada 5 poin, yaitu:


  • GPS untuk Militer                                                                                                                         GPS dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem pertahanan militer. Lebih jauh dari itu bisa memantau pergerakan musuh saat terjadi peperangan, juga bisa menjadi penuntun arah jatuhnya bom sehingga bisa lebih tertarget.

  • GPS untuk Navigasi                                                                                                                         Dalam kebutuhan berkendara sistem GPS pun sangat membantu, dengan adanya GPS Tracker terpasang pada kendaraan maka akan membuat perjalanan semakin nyaman karena arah dan tujuan jalan bisa diketahui setelah GPS mengirim posisi kendaraan kita yang diterjemahkan ke dalam bentuk peta digital.


  • GPS untuk Sistem Informasi GeografisGPS sering juga digunakan untuk keperluan sistem informasi geografis, seperti untuk pembuatan peta, mengukur jarak perbatasan, atau bisa dijadikan sebagai referensi pengukuran suatu wilayah.

  • GPS untuk Sistem Pelacakan Kendaraan                                                                               Fungsi ini hampir sama dengan navigasi, jika dalam navigasi menggunakan perangkat penerima sinyal GPS berikut penampil titik koordinatnya dalam satu perangkat, sedangkan untuk kebutuhan sistem pelacakan adalah alat penampil dan penerima sinyal berbeda lokasi. Contohnya kita bisa mengetahui lokasi kendaraan yang hilang dengan melihat titik kordinat yang dihasilkan dari alat yang terpasang dalam kendaraan tersebut, untuk melihatnya bisa melalui media smartphone atau alat khusus lainnya.


  • GPS untuk Pemantau Gempa                                                                                                     Saat ini teknologi GPS yang terus ditingkatkan menghasilkan tingkat ketelitian dan keakuratan yang sangat tinggi sehingga GPS dapat dimanfaatkan untuk memantau pergerakan tanah di bumi. Dengan hal itu maka para pakar Geologi dapat memperkirakan kemungkinan terjadinya gempa di suatu wilayah.

Daftar Pustaka

http://www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Fungsi-Unsur-dan-Jenis-Peta-adalah.html
http://sobatgeo.blogspot.co.id/2017/01/jenis-jenis-peta-beserta-penjelasan-dan.html
http://www.landasanteori.com/2015/10/pengertian-sistem-informasi-geografis.html
http://www.rumahinformatika.ml/2015/12/apa-itu-sig-gis-what-is-sig-or-gis.html
http://www.mandalamaya.com/pengertian-gps-cara-kerja-gps-dan-fungsi-gps/


Share:

Senin, 29 Mei 2017

Etika Profesi Tentang Software Develoaper

Share:

Selasa, 11 April 2017

Laporan Survei Provider : Indosat Ooredoo


 Berikut adalah daftar tarif telepon, sms, data, beserta keterangan lainnya.




Tahap Pengujian :
Saldo Awal
1.     SMS
Kemudian kami melakukan pengiriman SMS ke sesama operator dan hasilnya secara otomatis mendapat bonus 980 SMS ke sesama + 20 SMS operator lain sehingga jumlah saldo pulsa berkurang sesuai dengan jumlah tarif sms ke semua operator tersebut.
Selanjutnya kami menghabiskan bonus sms ke operator lain dan mencoba melakukan sms dan tarif yang dikenakan sebesar Rp. 220,-
Disini terjadi ketidaksesuaian dalam mencantumkan harga tarif yang operator Indosat Ooredoo berikan. Terdapat biaya tambahan sebesar Rp. 20,- dalam tarif sms ke operator lain.


2.     Telepon
Selanjutnya kami melakukan panggilan telepon ke sesama operator berdurasi 31 detik seperti dalam gambar berikut ini
Hasilnya kami mendapatkan potongan tarif Rp. 31, sesuai dengan yang dicantumkan oleh operator Indosat Ooredoo dengan bukti di bawah ini
Kemudian kami melakukan percobaan telepon ke operator lain selama 60 detik dan harga potongan tarif sesuai dengan durasi telpon yang dipakai senilai Rp. 60,-



Penulis :
Gianino Petrus Sule                                 14021106037
Bambang Bono Tursono                        14021106174

Joel Hukubun                                            14021106060
- See more at: http://14021106060-unsrat.blogspot.co.id/2017/04/laporan-survei-provider-indosat-ooredoo.html#sthash.OkrZPeXR.dpuf
Share:

Selasa, 04 April 2017

Tribun Jabar ( Kejahatan Cyber Crime )

108 Kasus Cyber Crime yang Ditangani Polda Jabar Belum Terselesaikan
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Jabar, Kombes Pol Wirdhan Deny mengatakan, sepanjang tahun 2015 Ditreskrimsus Polda Jabar menerima kasus Cyber Crime sebanyak 124 kasus.
Kasus-kasus tersebut di antaranya, kasus pornografi, kesusisilaan, pencemaran nama baik, pemerasan, penipuan, pengancaman, penerobosan sistem komputer dan sebagainya.
"Dari banyaknya kasus itu, yang telah kami selesaikan proses penyidikannya ada 77 kasus di tahun ini, sisa kasusnya masih belum terselesaikan karena ada hambatan," kata dia di Mapolda Jabar, Rabu (30/12/2015).
Menurutnya, sebanyak 108 kasus yang beleum terselesaikan itu umumnya adalah kasus penipuan online melalui media-media sosial.

Sumber :

Share:

Senin, 03 April 2017

Pengertian Cyber Crime


Kejahatan dunia maya (inggris: cybercrime) adalah istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer menjadi alat, sasaran atau tempat terjadinya kejahatan. Termasuk ke dalam kejahatan dunia maya antara lain adalah penipuan lelang secara online, pemalsuan cek, penipuan kartu kredit/carding, confidence fraud, penipuan identitas, pornografi anak, dll.
Percepatan teknologi semakin lama semakin supra yang menjadi sebab material perubahan yang terus menerus dalam semua interaksi dan aktivitas masyarakat informasi. Internet merupakan symbol material embrio masyarakat global. Internet membuat globe dunia, seolah-olah menjadi seperti hanya selebar daun kelor.  Era informasi ditandai dengan aksesibilitas informasi yang amat tinggi. Dalam era ini, informasi merupakan komoditi utama yang diperjual belikan sehingga akan muncul berbagai network dan information company yang akan memperjual belikan berbagai fasilitas bermacam jaringan dan berbagai basis data informasi tentang berbagai hal yang dapat diakses oleh pengguna dan pelanggan.  Sebenarnya dalam persoalan cybercrime, tidak ada kekosongan hukum, ini terjadi jika digunakan metode penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum dan ini yang mestinya dipegang oleh aparat penegak hukum dalam menghadapi perbuatan-perbuatan yang berdimensi baru yang secara khusus belum diatur dalam undang-undang.
Beberapa pendapat mengindentikkan cybercrime dengan computer crime. The u.s. department of justice memberikan pengertian computer crime sebagai:
“…any illegal act requiring knowledge of computer technology for its perpetration, investigation, or prosecution”.
Sedangkan organization of european community development, mendefinisikan computer crime sebagai:
“any illegal, unehtical or unauthorized behavior relating to the automatic processing and/or the transmission of data”.
Tavani (2000) memberikan definisi cybercrime berupa kejahatan dimana tindakan kriminal hanya bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi cyber dan terjadi di dunia cyber.
Dari tiga pengertian tersebut dapat disimpulkan definisi cybercrime sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan menggunakan internet yang berbasis pada kecanggihan teknologi komputer dan telekomunikasi.
Cybercrime dapat dikatakan sebagai kejahatan yang muncul sebagai akibat adanya komunitas dunia maya internet. Cybercrime ini memiliki karakteristik yang menyangkut 5 hal yaitu: ruang lingkup kejahatan (bersifat global), sifat kejahatan (kejahatan yang tidak terlihat), pelaku kejahatan (universal), modus kejahatan (menggunakan teknologi), dan jenis kerugian yang ditimbulkan ( material dan non material – waktu, nilai, jasa, uang barang, harga diri, martabat, kerahasian informasi).

Kejahatan ini berpotensi menganggu perekonomian nasional melalui jaringan infrastruktur yang berbasis teknologi elektronik seperti perbankan, telekomunikasi satelit, jaringan listrik dan jaringan lalu lintas penerbangan.

Jenis cybercrime berdasarkan jenis aktifitas
Dengan pembagian kategori, berdasarkan jenis aktifitas yang dilakukannya, cybercrime dapat digolongkan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

A. Unauthorized access – akses tidak sah
Merupakan kejahatan yang terjadi ketika seseorang memasuki atau menyusup ke dalam suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin, atau tanpa sepengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer yang dimasukinya. Probing dan port merupakan contoh kejahatan ini.
B. Illegal contents – konten ilegal
Merupakan kejahatan yang dilakukan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau menggangu ketertiban umum, contohnya adalah penyebaran pornografi.
C. Penyebaran virus secara sengaja
Penyebaran virus pada umumnya dilakukan dengan menggunakan email. Sering kali orang yang sistem emailnya terkena virus tidak menyadari hal ini. Virus ini kemudian dikirimkan ke tempat lain melalui emailnya.
D. Data forgery – pemalsuan data
Kejahatan jenis ini dilakukan dengan tujuan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang ada di internet. Dokumen-dokumen ini biasanya dimiliki oleh institusi atau lembaga yang memiliki situs berbasis web database.
E. Cyber espionage, sabotage, and extortion – mata-mata, merusak, memeras
Cyberespionage merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer pihak sasaran.
Sabotage and extortionmerupakan jenis kejahatan yang dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet.
F. Cyber talking
Kejahatan jenis ini dilakukan untuk mengganggu atau melecehkan seseorang dengan memanfaatkan komputer, misalnya menggunakan e-mail dan dilakukan berulang-ulang. Kejahatan tersebut menyerupai teror yang ditujukan kepada seseorang dengan memanfaatkan media internet. Hal itu bisa terjadi karena kemudahan dalam membuat email dengan alamat tertentu tanpa harus menyertakan identitas diri yang sebenarnya.
G. Carding – kartu
Carding merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet.
H. Hacking dan cracker
Istilah hackerbiasanya mengacu pada seseorang yang punya minat besar untuk mempelajari sistem komputer secara detail dan bagaimana meningkatkan kapabilitasnya. Adapun mereka yang sering melakukan aksi-aksi perusakan di internet lazimnya disebut cracker.
Boleh dibilang crackerini sebenarnya adalah hacker yang yang memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang negatif. Aktivitas cracking di internet memiliki lingkup yang sangat luas, mulai dari pembajakan account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus, hingga pelumpuhan target sasaran. Tindakan yang terakhir disebut sebagai dos (denial of service). Dos attack merupakan serangan yang bertujuan melumpuhkan target (hang, crash) sehingga tidak dapat memberikan layanan.
I. Cybersquatting and typosquatting
Cybersquatting merupakan kejahatan yang dilakukan dengan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut dengan harga yang lebih mahal. Adapun typosquatting adalah kejahatan dengan membuat domain plesetan yaitu domain yang mirip dengan nama domain orang lain. Nama tersebut merupakan nama domain saingan perusahaan.
J. Hijacking
Hijacking merupakan kejahatan melakukan pembajakan hasil karya orang lain. Yang paling sering terjadi adalah software piracy (pembajakan perangkat lunak).
K. Cyber terorism
Akar perkembangan dari cyberterrorism dapat ditelusuri sejak awal 1990, ketika pertumbuhan internet dan kemunculan komunitas informasi semakin pesat. Di amerika serikat sejak saat itu diadakan kajian mengenai potensi resiko yang akan dihadapi amerika serikat atas ketergantungannya yang begitu erat dengan jaringan (networks) dan teknologi.
Jenis cybercrime berdasarkan motif kegiatan :
Berdasarkan motif kegiatan yang dilakukannya, cybercrimedapat digolongkan menjadi dua jenis sebagai berikut :
A. Cybercrime sebagai tindakan murni kriminal
Kejahatan yang murni merupakan tindak kriminal merupakan kejahatan yang dilakukan karena motif kriminalitas dan internet hanya sebagai sarana kejahatan. Contoh kejahatan semacam ini adalah carding, yaitu pencurian nomor kartu kredit milik orang lain untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Juga pemanfaatan media internet (webserver, mailing list) untuk menyebarkan material bajakan.
B. Cybercrime sebagai kejahatan ”abu-abu”
Pada jenis kejahatan di internet yang masuk dalam wilayah ”abu-abu”, cukup sulit menentukan apakah itu merupakan tindak kriminal atau bukan mengingat motif kegiatannya terkadang bukan untuk kejahatan. Salah satu contohnya adalah probing atau portscanning. Ini adalah sebutan untuk semacam tindakan pengintaian terhadap sistem milik orang lain dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari sistem yang diintai, termasuk sistem operasi yang digunakan, port-port yang ada, baik yang terbuka maupun tertutup, dan sebagainya.

Sumber :
http://www.porosilmu.com/2015/02/pengertian-dan-jenis-jenis-cyber-crime.html
http://arrfym.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-cyber-crime.html

Share:

Wawancara Pekerjaan Unik



Saya bertemu bapak yang bernama Anto berumur 45 dia adalah seorang pedangan kaki 5 yang biasa   keliling di daerah pasar 45 di dekat jembatan soekarno yang sedang  menjajakan jualnya di jalan. Saya berkesempatan untuk mewawancarainya di sela sela waktu dia beristirahat.

- Saya : Permisi Pak ... saya mau mewawancarai bapak sebagai narasumber untuk tugas kuliah saya, apa bapak mau untuk di wawancarai ?

-Pedagang: boleh silakan

- Saya : sudah berapa lama Bapak Berjualan sebagai pedangan kaki 5 ?

-Pedagang: sudah  7 tahun.

-Saya : Bagaimana bapak bisa memilih pekerjaan ini ?

-Pedagang : Mendengar dari teman – teman bapak  tentang pekerjaan ini dengan modal yang sedikit saya bisa memulai berjualan

-Saya : kemungkinan bapak bisa mendapt keuntungan berapa dalam sehari ?

-Pedagang: Terkadang tidak menentu, minimal dalam sehari mendapat untung 50 ribu

-Saya :Apakah pendapatan tersebut cukup untuk kebutuhan sehari-hari ?

-Pedagang : Tentu tidak tetapi dengan pekerjaan ini saya bisa menghidupi keluarga saya

-Saya : Apakah sebelumnya bapak pernah mencoba pekerjaan lain ?

-Pedangang : Pernah, seperti kuli bangunan tetapi pekerjaan itu membutuhkan tenaga yang besar karena fisik saya sudah tua jadi saya mencari pekerjaan lain

-Saya : saya kira sudah cukup banyak mengetahui pekerjaan bapak. terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

-Pedagang: ya ... sama – sama. 
Share:

Senin, 20 Maret 2017

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI)

A.   Pengertian SKKNI
1.    Pengertian Kompetensi
Berdasar pada arti estimologi kompetensi diartikan sebagai kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan atau melaksanakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja.
Sehingga dapatlah dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar performa yang ditetapkan.
Beberapa model penyusunan standar kompetensi:
Model Occupational Skills Standard (MOSS) adalah model penyusunan standar kompetensi berdasarkan okupasi atau jabatan. Model ini kurang sesuai apabila diterapkan di Indonesia karena terdapat variasi pekerjaan pada jabatan yang sama.
Regional Model Competency Standard (RMCS) adalah model penyusunan standar kompetensi yang diperkenalkan oleh International Labor Organization (ILO), yang pengembangannya menggunakan pendekatan fungsi dari proses kerja suatu kegiatan usaha/industri sejenis.

2.    Pengertian Standar Kompetensi
Berdasar pada arti bahasa, standar kompetensi terbentuk atas kata standar dan kompetensi. Standar diartikan sebagai “ukuran” yang disepakati, sedangkan kompetensi telah didefinisikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar performa yang ditetapkan.
Dengan demikian dapatlah disepakati bahwa standar kompetensi merupakan kesepakatan-kesepakatan tentang kompetensi yang diperlukan pada suatu bidang pekerjaan oleh seluruh “stakeholder” di bidangnya.
Dengan kata lain, yang dimaksud dengan Standar Kompetensi adalah perumusan tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan.

3. Konsep SKKNI
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan dikuasainya standar kompetensi tersebut oleh seseorang, maka yang bersangkutan akan mampu:
• bagaimana mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan
• bagaimana mengorganisasikannya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula
• bagaimana menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugas dengan kondisi yang berbeda.
• bagaimana menyesuaikan kemampuan yang dimiliki bila bekerja pada kondisi dan lingkungan yang berbeda.

a. Model Standar Kompetensi.
Standar kompetensi kerja bidang xxxxxxxxx dikembangkan mengacu pada Permenakertrans No. 21/MEN/2007 tentang Tata Cara Penetapan SKKNI. Atas dasar penetapan tersebut maka standar kompetensi bidang xxxxxxxxx yang dikembangkan harus mengacu kepada Regional Model of Competency Standard (RMCS).

b.      Prinsip yang harus dipenuhi dalam penyusunan standar dengan model RMCS
Penyusunan dan perumusan SKKNI yang merefleksikan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri, maka harus memenuhi  beberapa hal sebagai berikut :

1. Fokus kepada kebutuhan dunia usaha/dunia   industri
2. Kompatibilitas
3. Fleksibilitas
4. Keterukuran
5. Ketelusuran
6. Transferlibilitas

B. Penggunaan SKKNI
Standar Kompetensi dibutuhkan oleh beberapa lembaga / institusi yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia, sesuai dengan kebutuhan masing- masing :
1. Untuk institusi pendidikan dan pelatihan
2. Untuk dunia usaha / industri dan penggunaan tenaga kerja
3. Untuk institusi penyelenggara pengujian dan sertifikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi atau biasa disebut TIK merupakan salah satu bidang keahlian yang terdiri dari sub – sub bidang yang lebih spesifik. Sub bidang tersebut antara lain:
1. Computer Support (Teknisi Komputer dan Jaringan)
2. Jaringan Komputer
3. Operator Komputer
4. Programming
5. Multimedia

Langkah persiapannya dimulai dengan mengeluarkan Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Pemberlakuan dan Penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

RPM ini pun bertujuan mewujudkan tenaga kerja bidang Kominfo yang kompeten dan profesional sehingga mampu meningkatkan daya saing dan produktivitas lapangan usaha dan industri komunikasi dan informatika.

Adapun pertimbangan pembuatan RPM ini adalah berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (2) huruf c tentang Tata Cara Penetapan SKKNI yang menyatakan bahwa pemberlakuan SKKNI bidang Kominfo dilakukan oleh Menteri Kominfo, Lanjut Ismail dalam keterangan tertulisnya.
Adapun SKKNI bidang Kominfo in nantinya akan mencakup dari lima belas bidang yang terdiri dari:

• Bidang Operator Komputer
• Bidang Programmer Komputer
• Bidang Jaringan Komputer dan Sistem Administrasi
• Bidang Computer Technical Support
• Bidang Jaringan Telekomunikasi Sub Bidang Jasa Multimedia
• Bidang Kehumasan
• Bidang Jaringan Telekomunikasi Sub Bidang Teknisi Telekomunikasi Satelit
• Bidang Keahlian Desain Grafis
• Bidang Manajemen Layanan Teknologi Informasi
• Bidang Keahlian Teknisi Instalasi Fiber Optik
• Bidang Perekayasaan dan Perencanaan Jaringan Seluler
• Bidang ICT Project Manager
• Bidang Keahlian Periklanan
• Bidang Pekerjaan Produser Televisi
• Bidang Keahlian Pos Sub Bidang Penanganan Layanan Komunikasi tertulis/ elektronik dan paket

Sumber :
https://jadhie.wordpress.com/2011/12/28/standar-kompetensi-kerja-nasional-indonesia-skkni/
http://www.kemenperin.go.id/kompetensi/skkni_idx.php
http://www.tutorial-komputer.com/skkni/skkni-bidang-tik/
http://chip.co.id/news/press_release-law_and_regulations-corporate/13732/kominfo_siap_uji_publik_terhadap_standar_kompetensi_kerja_nasional_indonesia_skkni

Share:

Senin, 20 Februari 2017

SWOT About My Self



Komponen Analisis SWOT terhadap diri sendiri :
S = Strenght, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, organisasi, atau sebuah program saat ini yang bisa berpengaruh positif di masa yang akan datang.


Keunggulan yang dimiliki sekarang :


1) Kemampuan manajemen waktu yang baik
2) Bertanggung jawab pada diri sendiri
3) Konservatif dan hemat khusunya dalam keuangan
4) Senang membaca dan mendengarkan
5) Mudah bersosialisasi atau hubungan baik dengan teman.
6) Berkomitmen pada ucapan
7) Telaten atau pantang menyerah jika terjadi kesulitan
8) Disiplin
9) Berpenampilan cukup menarik
10) Jujur

W = Weakness, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan yang dimiliki oleh seseorang, organisasi, atau sebuah program saat ini yang bisa berpengaruh negative di masa yang akan datang.

Kelemahan yang dimiliki sekarang :
1) Kurang percaya diri jika bicara di depan umum
2) Pelupa
3) Mudah terpengaruh
4) Susah mengambil keputusan dengan cepat
5) Dukungan keuangan kurang baik
6) Ceroboh karena sering tidak sabaran
7) Lebih mementingkan diri sendiri
8) Susah mengingat nama seseorang
9) Cara bicara yang kurang dmudah dimengerti dan tidak beraturan
10) Pendiam
 
O = Opportunity, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang atau kesempatan di luar diri pribadi, organisasi, atau sebuah program dan memberikan peluang berkembang dimasa depan.

Kesempatan atau peluang yang ada diantaranya :
1) Berpeluang masuk pekerjaan di bidang it
2) Pemberlakuakan IFRS di semua lembaga
3) Pencanangan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR)
4) Perubahan peraturan perpajakan khususnya tentang pajak penghasilan
5) Rekruitmen PNS setiap tahun
6) Pencanangan PNPM mandiri
7) Perluasan sector Perbankan
8) Perkembangan teknologi baru
9) Bisa membuat usaha di bidang it
10) Untuk menjadi Dosen

T = Threat, adalah situasi yang merupakan ancaman atau hambatan yang datang dari luar diri pribadi, organisasi, atau sebuah program dan dapat mengancam eksistensi dimasa depan.

Ancaman atau hambatan yang ada diantaranya :
1) Tenaga kerja yang berpengalaman
2) Lulusan Perguruan Tinggi yang bonafit
3) Meningkatnya persaingan diantara lulusan sarjana
4) Merebaknya KKN di semua bidang
5) Tenaga kerja yang kompeten
6) IPK > 3,00
7) Perusahaan Padat Modal
8) Kuota PNS, tapi lebih mengutamakan tenaga kerja honorer
9) Tuntutan segera menikah
10) Makin Banyak Saingan di bidang it 
Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Tugas 5 Review karya Ilmiah tentang Proyeksi UTM

Proyeksi Peta Proyeksi Peta adalah pemindahan bentuk bumi ( 3 Dimensi ) yang bulat ke peta bumi yang datar ( 2 Dimensi ) atau perpindahan d...

Blogger templates